Saudaraku yg kumuliakan,
saya adalah seorang anak yg sangat dimanja
oleh ayah saya, ayah saya selalu memanjakan saya lebih dari anaknya yg
lain, namun dimasa baligh, justru saya yg putus sekolah, semua kakak
saya wisuda, ayah bunda saya bangga pada mereka, dan kecewa pada saya,
karena saya malas sekolah, saya lebih senang hadir majelis maulid
Almarhum Al Arif billah Alhabib Umar bin Hud Alalttas, dan Majelis
taklim kamis sore di empang bogor, masa itu yg mengajar adalah Al Marhum
Al Allamah Alhabib Husein bin Abdullah bin Muhsin Alattas dg kajian
Fathul Baari.
sisa hari hari saya adalah
bershalawat 1000 siang 1000 malam, zikir beribu kali, dan puasa nabi
daud as, dan shalat malam berjam jam, saya pengangguran, dan sangat
membuat ayah bunda malu.
ayah saya 10 tahun belajar dan tinggal
di Makkah, guru beliau adalah Almarhum Al Allamah Alhabib Alwi Al
Malikiy, ayah dari Al Marhum Al Allamah Assayyid Muhammad bin Alwi Al
Malikiy, ayah saya juga sekolah di Amerika serikat, dan mengambil gelar
sarjana di New york university.
almarhum ayah sangat malu, beliau
mumpuni dalam agama dan mumpuni dalam kesuksesan dunia, beliau berkata
pada saya : kau ini mau jadi apa?, jika mau agama maka belajarlah dan
tuntutlah ilmu sampai keluar negeri, jika ingin mendalami ilmu dunia
maka tuntutlah sampai keluar negeri, namun saranku tuntutlah ilmu agama,
aku sudah mendalami keduanya, dan aku tak menemukan keberuntungan apa
apa dari kebanggaan orang yg sangat menyanjung negeri barat, walau aku
sudah lulusan New York University, tetap aku tidak bisa sukses di dunia
kecuali dg kelicikan, saling sikut dalam kerakusan jabatan, dan aku
menghindari itu.
maka ayahanda almarhum hidup dalam kesederhanaan
di cipanas, cianjur, Puncak. Jawa barat, beliau lebih senang menyendiri
dari ibukota, membesarkan anak anaknya, mengajari anak2nya mengaji,
ratib, dan shalat berjamaah.
namun saya sangat mengecewakan ayah bunda karena boleh dikatakan : dunia tidak akhiratpun tidak.
namun
saya sangat mencintai Rasul saw, menangis merindukan Rasul saw, dan
sering dikunjungi Rasul saw dalam mimpi, Rasul saw selalu menghibur saya
jika saya sedih, suatu waktu saya mimpi bersimpuh dan memeluk lutut
beliau saw, dan berkata wahai Rasulullah saw aku rindu padamu, jangan
tinggalkan aku lagi, butakan mataku ini asal bisa jumpa dg mu.., ataukan
matikan aku sekarang, aku tersiksa di dunia ini,,, Rasul saw menepuk
bahu saya dan berkata : munzir, tenanglah, sebelum usiamu mencapai 40
tahun kau sudah jumpa dg ku.., maka saya terbangun..
akhirnya
karena ayah pensiun, maka ibunda membangun losmen kecil didepan rumah
berupa 5 kamar saja, disewakan pada orang yg baik baik, untuk biaya
nafkah, dan saya adalah pelayan losmen ibunda saya.
setiap
malam saya jarang tidur, duduk termenung dikursi penerimaan tamu yg cuma
meja kecil dan kursi kecil mirip pos satpam, sambil menanti tamu,
sambil tafakkur, merenung, melamun, berdzikir, menangis dan shalat malam
demikian malam malam saya lewati,
siang hari saya puasa
nabi daud as, dan terus dilanda sakit asma yg parah, maka itu semakin
membuat ayah bunda kecewa, berkata ibunda saya : kalau kata orang, jika
banyak anak, mesti ada satu yg gagal, ibu tak mau percaya pada ucapan
itu, tapi apakah ucapan itu kebenaran?.
saya terus menjadi
pelayan di losmen itu, menerima tamu, memasang seprei, menyapu kamar,
membersihkan toilet, membawakan makanan dan minuman pesanan tamu, berupa
teh, kopi, air putih, atau nasi goreng buatan ibunda jika dipesan tamu.
sampai
semua kakak saya lulus sarjana, saya kemudian tergugah untuk mondok,
maka saya pesantren di Hb Umar bin Abdurrahman Assegaf di Bukit duri
jakarta selatan, namun hanya dua bulan saja, saya tidak betah dan sakit
sakitan karena asma terus kambuh, maka saya pulang.
ayah makin
malu, bunda makin sedih, lalu saya prifat saja kursus bahasa arab di
kursus bahasa arab assalafi, pimpinan Almarhum Hb Bagir Alattas,
ayahanda dari hb Hud alattas yg kini sering hadir di majelis kita di
almunawar.
saya harus pulang pergi jakarta cipanas yg saat itu
ditempuh dalam 2-3 jam, dg ongkos sendiri, demikian setiap dua kali
seminggu, ongkos itu ya dari losmen tsb.
saya selalu hadir maulid
di almarhum Al Arif Billah Alhabib Umar bin Hud alattas yg saat itu di
cipayung, jika tak ada ongkos maka saya numpang truk dan sering hujan
hujanan pula.
sering saya datang ke maulid beliau malam jumat
dalam keadaan basah kuyup, dan saya diusir oleh pembantu dirumah beliau,
karena karpet tebal dan mahal itu sangat bersih, tak pantas saya yg
kotor dan basah menginjaknya, saya terpaksa berdiri saja berteduh
dibawah pohon sampai hujan berhenti dan tamu tamu berdatangan, maka saya
duduk dil;uar teras saja karena baju basah dan takut dihardik sang
penjaga.
saya sering pula ziarah ke luar batang, makam Al Habib
husein bin Abubakar Alaydrus, suatu kali saya datang lupa membawa peci,
karena datang langsung dari cipanas, maka saya berkata dalam hati, wahai
Allah, aku datang sebagai tamu seorang wali Mu, tak beradab jika aku
masuk ziarah tanpa peci, tapi uangku pas pasan, dan aku lapar, kalau aku
beli peci maka aku tak makan dan ongkos pulangku kurang..,
maka
saya memutuskan beli peci berwarna hijau, karena itu yg termurah saat
itu di emperan penjual peci, saya membelinya dan masuk berziarah, sambil
membaca yaasin utk dihadiahkan pada almarhum, saya menangisi kehidupan
saya yg penuh ketidak tentuan, mengecewakan orang tua, dan selalu lari
dari sanak kerabat, karena selalu dicemooh, mereka berkata : kakak2mu
semua sukses, ayahmu lulusan makkah dan pula new york university, koq
anaknya centeng losmen..
maka saya mulai menghindari kerabat, saat lebaranpun saya jarang berani datang, karena akan terus diteror dan dicemooh.
walhasil
dalam tangis itu saya juga berkata dalam hati, wahai wali Allah, aku
tamumu, aku membeli peci untuk beradab padamu, hamba yg shalih disisi
Allah, pastilah kau dermawan dan memuliakan tamu, aku lapar dan tak
cukup ongkos pulang..,
lalu dalam saya merenung, datanglah
rombongan teman teman saya yg pesantren di Hb Umar bin Abdurrahman
Assegaf dg satu mobil, mereka senang jumpa saya, sayapun ditraktir
makan, saya langsung teringat ini berkah saya beradab di makam wali
Allah..
lalu saya ditanya dg siapa dan mau kemana, saya katakan
saya sendiri dan mau pulang ke kerabat ibu saya saja di pasar sawo, kb
Nanas Jaksel, mereka berkata : ayo bareng saja, kita antar sampai kebon
nanas, maka sayapun semakin bersyukur pada Allah, karena memang ongkos
saya tak akan cukup jika pulang ke cipanas, saya sampai larut malam di
kediaman bibi dari Ibu saya, di ps sawo kebon nanas, lalu esoknya saya
diberi uang cukup untuk pulang, sayapun pulang ke cipanas..
tak
lama saya berdoa, wahai Allah, pertemukan saya dg guru dari orang yg
paling dicintai Rasul saw, maka tak lama saya masuk pesantren Al Habib
Hamid Nagib bin Syeikh Abubakar di Bekasi timur, dan setiap saat mahal
qiyam maulid saya menangis dan berdoa pada Allah untuk rindu pada Rasul
saw, dan dipertemukan dg guru yg paling dicintai Rasul saw, dalam
beberapa bulan saja datanglah Guru Mulia Al Musnid Al Allamah Al Habib
Umar bin Hafidh ke pondok itu, kunjungan pertama beliau yaitu pd 1994.
selepas
beliau menyampaikan ceramah, beliau melirik saya dg tajam.., saya hanya
menangis memandangi wajah sejuk itu.., lalu saat beliau sudah naik ke
mobil bersama almarhum Alhabib Umar maula khela, maka Guru Mulia
memanggil Hb Nagib Bin Syeikh Abubakar, Guru mulia berkata bahwa beliau
ingin saya dikirim ke Tarim Hadramaut yaman untuk belajar dan menjadi
murid beliau,
Guru saya hb Nagib bin syeikh abubakar mengatakan
saya sangat belum siap, belum bisa bahasa arab, murid baru dan belum
tahu apa apa, mungkin beliau salah pilih..?, maka guru mulia menunjuk
saya, itu.. anak muda yg pakai peci hijau itu..!, itu yg saya
inginkan.., maka Guru saya hb Nagib memanggil saya utk jumpa beliau,
lalu guru mulia bertanya dari dalam mobil yg pintunya masih terbuka :
siapa namamu?, dalam bahasa arab tentunya, saya tak bisa menjawab karena
tak faham, maka guru saya hb Nagib menjawab : kau ditanya siapa
namamu..!, maka saya jawab nama saya, lalu guru mulia tersenyum..
keesokan
harinya saya jumpa lagi dg guru mulia di kediaman Almarhum Hb bagir
Alattas, saat itu banyak para habaib dan ulama mengajukan anaknya dan
muridnya untuk bisa menjadi murid guru mulia, maka guru mulia mengangguk
angguk sambil kebingungan menghadapi serbuan mereka, lalu guru mulia
melihat saya dikejauhan, lalu beliau berkata pada almarhum hb umar maula
khela : itu.. anak itu.. jangan lupa dicatat.., ia yg pakai peci hijau
itu..!,
guru mulia kembali ke Yaman, sayapun langsung ditegur
guru saya hb Nagib bin syekh abubakar, seraya berkata : wahai munzir,
kau harus siap siap dan bersungguh sungguh, kau sudah diminta berangkat,
dan kau tak akan berangkat sebelum siap..
dua bulan kemudian
datanglah Almarhum Alhabib Umar maula khela ke pesantren, dan menanyakan
saya, alm hb umar maulakhela berkata pada hb nagib : mana itu munzir
anaknya hb Fuad almusawa?, dia harus berangkat minggu ini, saya ditugasi
untuk memberangkatkannya, maka hb nagib berkata saya belum siap, namun
alm hb umar maulakhela dg tegas menjawab : saya tidak mau tahu, namanya
sudah tercantum untuk harus berangkat, ini pernintaan AL Habib Umar bin
Hafidh, ia harus berangkat dlm dua minggu ini bersama rombongan
pertama..
saya persiapkan pasport dll, namun ayah saya keberatan,
ia berkata : kau sakit sakitan, kalau kau ke Mekkah ayah tenang, karena
banyak teman disana, namun ke hadramaut itu ayah tak ada kenalan,
disana negeri tandus, bagaimana kalau kau sakit?, siapa yg
menjaminmu..?,
saya pun datang mengadu pd Almarhum Al Arif
billah Alhabib Umar bin hud Alattas,beliau sudah sangat sepuh, dan
beliau berkata : katakan pada ayahmu, saya yg menjaminmu, berangkatlah..
saya
katakan pada ayah saya, maka ayah saya diam, namun hatinya tetap berat
untuk mengizinkan saya berangkat, saat saya mesti berangkat ke bandara,
ayah saya tak mau melihat wajah saya, beliau buang muka dan hanya
memberikan tangannya tanpa mau melihat wajah saya, saya kecewa namun
saya dg berat tetap melangkah ke mobil travel yg akan saya naiki, namun
saat saya akan naik, terasa ingin berpaling ke belakang, saya lihat nun
jauh disana ayah saya berdiri dipagar rumah dg tangis melihat
keberangkatan saya..., beliau melambaikan tangan tanda ridho, rupanya
bukan beliau tidak ridho, tapi karena saya sangat disayanginya dan
dimanjakannya, beliau berat berpisah dg saya, saya berangkat dg airmata
sedih..
saya sampai di tarim hadramaut yaman dikediaman guru
mulia, beliau mengabsen nama kami, ketika sampai ke nama saya dan beliau
memandang saya dan tersenyum indah,
tak lama kemudian terjadi
perang yaman utara dan yaman selatan, kami di yaman selatan, pasokan
makanan berkurang, makanan sulit, listrik mati, kamipun harus berjalan
kaki kemana mana menempuh jalan 3-4km untuk taklim karena biasanya dg
mobil mobil milik guru mulia namun dimasa perang pasokan bensin sangat
minim
suatu hari saya dilirik oleh guru mulia dan berkata :
Namamu Munzir.. (munzir = pemberi peringatan), saya mengangguk, lalu
beliau berkata lagi : kau akan memberi peringatan pada jamaahmu
kelak...!.
maka saya tercenung.., dan terngiang ngiang ucapan
beliau : kau akan memberi peringatan pada jamaahmu kelak...?, saya akan
punya jamaah?, saya miskin begini bahkan untuk mencuci bajupun tak
punya uang untuk beli sabun cuci..
saya mau mencucikan baju
teman saya dg upah agar saya kebagian sabun cucinya, malah saya dihardik
: cucianmu tidak bersih...!, orang lain saja yg mencuci baju ini..
maka
saya terpaksa mencuci dari air bekas mengalirnya bekas mereka mencuci,
air sabun cuci yg mengalir itulah yg saya pakai mencuci baju saya
hari
demi hari guru mulia makin sibuk, maka saya mulai berkhidmat pada
beliau, dan lebih memilih membantu segala permasalahan santri, makanan
mereka, minuman, tempat menginap dan segala masalah rumah tangga santri,
saya tinggalkan pelajaran demi bakti pada guru mulia membantu beliau,
dengan itu saya lebih sering jumpa beliau.
2 tahun di yaman ayah saya sakit, dan telepon, beliau berkata : kapan kau pulang wahai anakku..?, aku rindu..?
saya jawab : dua tahun lagi insya Allah ayah..
ayah menjawab dg sedih ditelepon.. duh.. masih lama sekali.., telepon ditutup, 3 hari kemudian ayah saya wafat..
saya
menangis sedih, sungguh kalau saya tahu bahwa saat saya pamitan itu
adalah terakhir kali jumpa dg beliau.. dan beliau buang muka saat saya
mencium tangan beliau, namun beliau rupanya masih mengikuti saya, keluar
dari kamar, keluar dari rumah, dan berdiri di pintu pagar halaman rumah
sambil melambaikan tangan sambil mengalirkan airmata.., duhai,, kalau
saya tahu itulah terakhir kali saya melihat beliau,., rahimahullah..
tak
lama saya kembali ke indonesia, tepatnya pada 1998, mulai dakwah
sendiri di cipanas, namun kurang berkembang, maka say mulai dakwah di
jakarta, saya tinggal dan menginap berpindah pindah dari rumah kerumah
murid sekaligus teman saya, majelis malam selasa saat itu masih
berpindah pindah dari rumah kerumah, mereka murid2 yg lebih tua dari
saya, dan mereka kebanyakan dari kalangan awam, maka walau saya sudah
duduk untuk mengajar, mereka belum datang, saya menanti, setibanya
mereka yg cuma belasan saja, mereka berkata : nyantai dulu ya bib,
ngerokok dulu ya, ngopi dulu ya, saya terpaksa menanti sampai mereka
puas, baru mulai maulid dhiya'ullami.., jamaah makin banyak, mulai tak
cukup dirumah rumah, maka pindah pindah dari musholla ke musholla,.
jamaah makin banyak, maka tak cukup pula musholla, mulai berpindah
pindah dari masjid ke masjid,
lalu saya membuka majelis
dihari lainnya, dan malam selasa mulai ditetapkan di masjid almunawar,
saat itu baru seperempat masjid saja, saya berkata : jamaah akan semakin
banyak, nanti akan setengah masjid ini, lalu akan memenuhi masjid ini,
lalu akan sampai keluar masjid insya Allah.. jamaah mengaminkan..
mulailah
dibutuhkan kop surat, untuk undangan dlsb, maka majelis belum diberi
nama, dan saya merasa majelis dan dakwah tak butuh nama, mereka sarankan
majelis hb munzir saja, saya menolak, ya sudah, majelis rasulullah saw
saja,
kini jamaah Majelis Rasulullah sudah jutaan, di
Jabodetabek, jawa barat, banten, jawa tengah, jawa timur, bali, mataram,
kalimantan, sulawesi, papua, singapura, malaysia, bahkan sampai ke
Jepang, dan salah satunya kemarin hadir di majelis haul badr kita di
monas, yaitu Profesor dari Jepang yg menjadi dosen disana, dia datang
keindonesia dan mempelajari bidang sosial, namun kedatangannya juga
karena sangat ingin jumpa dg saya, karena ia pengunjung setia web ini,
khususnya yg versi english..
sungguh agung anugerah Allah swt pada orang yg mencintai Rasulullah saw, yg merindukan Rasulullah saw...
itulah
awal mula hamba pendosa ini sampai majelis ini demikian besar, usia
saya kini 38 tahun jika dg perhitungan hijriah, dan 37 th jika dg
perhitungan masehi, saya lahir pd Jumat pagi 19 Muharram 1393 H, atau 23
februari 1973 M.
perjanjian Jumpa dg Rasul saw adalah sblm usia saya tepat 40 tahun, kini sudah 1431 H,
mungkin sblm sempurna 19 Muharram 1433 H saya sudah jumpa dg Rasul saw, namun apakah Allah swt akan menambah usia pendosa ini..?
Wallahu a'lam
Pages
▼
Kamis, 29 November 2012
Senin, 26 November 2012
Jadwal Lengkap Pertandingan Manchester United di Liga Premier 2012-2013
- 18 Agustus 2012: Everton v Man Utd
- 25 Agustus 2012: Man Utd v Fulham
- 1 September 2012: Southampton v Man Utd
- 15 September 2012: Man Utd v Wigan
- 22 September 2012: Liverpool v Man Utd
- 29 September 2012: Man Utd v Tottenham
- 6 Oktober 2012: Newcastle v Man Utd
- 20 Oktober 2012: Man Utd v Stoke
- 27 Oktober 2012: Chelsea v Man Utd
- 3 November 2012: Man Utd v Arsenal
- 10 November 2012: Aston Villa v Man Utd
- 17 November 2012: Norwich v Man Utd
- 24 November 2012: Man Utd v QPR
- 27 November 2012: Man Utd v West Ham
- 1 Desember 2012: Reading v Man Utd
- 8 Desember 2012: Man City v Man Utd
- 15 Desember 2012: Man Utd v Sunderland
- 22 Desember 2012: Swansea v Man Utd
- 26 Desember 2012: Man Utd v Newcastle
- 29 Desember 2012: Man Utd v West Brom
- 1 Januari 2013: Wigan v Man Utd
- 12 Januari 2013: Man Utd v Liverpool
- 19 Januari 2013: Tottenham v Man Utd
- 29 Januari 2013: Man Utd v Southampton
- 2 Februari 2013: Fulham v Man Utd
- 9 Februari 2013: Man Utd v Everton
- 23 Februari 2013: QPR v Man Utd
- 2 Maret 2013: Man Utd v Norwich
- 9 Maret 2013: West Ham v Man Utd
- 16 Maret 2013: Man Utd v Reading
- 30 Maret 2013: Sunderland v Man Utd
- 6 April 2013: Man Utd v Man City
- 13 April 2013: Stoke v Man Utd
- 20 April 2013: Man Utd v Aston Villa
- 27 April 2013: Arsenal v Man Utd
- 4 Mei 2013: Man Utd v Chelsea
12 Mei 2013: Man Utd v Swansea - 19 Mei 2013: West Brom v Man Utd
Inilah Jadwal Pertandingan Manchester United (MU) 2012 - 2013 yang dapat kami Update untuk anda sekarang.Semoga Kamu pencinta Klub Manchester United akan selalu Menunggu dan menonton Pertandingan Klub favorit kamu ini bertanding.
Biografi syekh ahmad badawi
Setiap hari, dari pagi hingga sore, ia menatap matahari, sehingga
kornea matanya merah membara. Apa yang dilihatnya bisa terbakar,
khawatir terjadinya hal itu, saat berjalan ia lebih sering menatap
langit, bagaikan orang yang sombong. Sejak masa kanak kanak, ia suka
berkhalwat dan riyadhoh, pernah empat puluh hari lebih perutnya tak
terisi makanan dan minuman. Ia lebih memilih diam dan berbicara dengan
bahasa isyarat, bila ingin berkomunikasi dengan seseorang. Ia tak
sedetikpun lepas dari kalimat toyyibah, berdzikir dan bersholawat. Dalam
perjalanan riyadhohnya, ia pernah tinggal di loteng negara Thondata
selama 12 tahun, dan selama 8 tahun ia berada diatas atap, riadhoh siang
dan malam. Ia hidup pada tahun 596-675 H dan wafat di Mesir, makamnya
di kota Tonto, setiap waktu tak pernah sepi dari peziarah.
Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Sjech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.
Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.
Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al badawi.
Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’).
Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”.
Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?”
Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya.
Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.
Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.
Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi.
Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.
Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Badawi.
Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya.
Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi.
Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat. Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro. Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca, untuk dapat diambil hikmahnya, DUSTUR YA SAYYIDI AHMAD AL BADAWI
Pada usia dini ia telah hafal Al-Qur’an, untuk memperdalam ilmu agama ia berguru kepada Syeikh Abdul Qadir al-Jailani dan syeikh Ahmad Rifai. Ia adalah Waliullah Qutbol Gaust, Assayyid, Assyarif Ahmad al Badawi. Suatu hari, ketika sang Murid telah sampai ketingkatannya, Sjech Abdul Qodir Jaelani, menawarkan kepadanya ; ”Manakah yang kau inginkan ya Ahmad Badawi, kunci Masriq atau Magrib, akan kuberikan untukmu”, hal yang sama juga diucapkan oleh gurunya Sayyid Ahmad Rifai, dengan lembut, dan menjaga tatakrama murid kepada gurunya, ia menjawab; ”Aku tak mengambil kunci kecuali dari Al Fattah (Allah )”.
Suatu hari datang kepadanya, seorang janda mohon pertolongan, anak lelakinya ditahan di Perancis, dan sang ibu ingin agar anak itu kembali dalam keadaan selamat. Oleh Sayyidi Ahmad Al Badawi, janda itu disuruhnya untuk pulang, dan berkata sayidi : “Insya Allah anak ibu sudah berada dirumah”. Bergegas sang ibu menuju rumahnya, dan betapa bahagia, bercampur haru, dan penuh keheranan, ia dapati anaknya telah berada di rumah dalam keadaan terbelenggu. Sayyidi al badawi banyak menolong orang yang ditahan secara Dholim oleh penguasa Prancis saat itu, dan semua pulang ke rumahnya dalam keadaan tangannya tetap terbelenggu.
Pernah suatu ketika Syaikh Ibnul labban mengumpat Sayyidi Ahmad Badawi, seketika itu juga hafalan Al-Qur’an dan iman Syaikh Ibnul labban menjadi hilang. Ia bingung dan berusaha dengan beristighosah dan meminta bantuan do’a, orang orang terkemuka di zaman itu (agar ilmu dan imannya kembali lagi), tetapi tidak satupun dari yang dimintainya doa, berani mencampuri urusannya, karena terkait dengan Sayyidi Ahmad Badawi. Padahal diriwayatkan, saat itu Sayyidi Al Badawi telah wafat. Orang terkemuka yang dimintainya doa, hanya berani memberi saran kepada Syaikh Ibnul labban, agar dia menghadap Syeikh Yaqut al-‘Arsyiy, waliullah terkemuka pada saat itu, dan kholifah sayyidi abil hasan Assadzili. Ibnu labban segera menemui Sjech Yaqut dan minta pertolongannya, dalam urusannya dengan sayyidi Ahmad Al badawi.
Setelah dimintai pertolongan oleh Syaikh Ibnul labban, Syeikh Yaqut Arsyiy berangkat menuju ke makam Sayyidi al-Badawi dan berkata : “ Wahai guru, hendaklah tuan memberi ma’af kepada orang ini!”. Dari dalam makamnya, terdengar jawaban “Apakah kamu berkehendak untuk mengembalikan tandanya orang miskin itu ? ya…sudah, tapi dengan syarat ia mau bertaubat”. Syeikh Ibbnul Labbanpun akhirnya bertaubat, dan tidak lama kemudian kembalilah ilmu dan imannya seperti sedia kala dan ia juga mengakui kewalian Syeikh Yaqut, karena peristiwa tersebut. Ia kemudian dinikahkan dengan putrinya Syeikh Yaqut. (Di ambil dari kitab al-Jaami’).
Syeikh Muhammad asy-Syanawi menceritakan, bahwa pada waktu itu ada orang yang tidak mau menghadiri dan bahkan mengingkari peringatan maulidnya Syeikh Ahmad Badawi, maka seketika hilanglah iman orang itu dan menjadi merasa tidak senang terhadap agama Islam. Orang itu kemudian berziarah ke makamnya Sayyid Badawi untuk minta tolong dan memohon maaf atas kesalahannya. Kemudian terdengarlah suara sayyidi Badawi dari dalam kubur : “iya, saya ma’afkan, tapi jangan berbuat lagi. Na’am (iya) jawab orang itu, spontan imannya kembali lagi. Beliau lalu meneruskan ucapannya : “Apa sebabnya kamu mengingkari kami semua”.
Dijawabnya : “Karena di dalam acara itu banyak orang laki-laki dan perempuan bercampur baur menjadi satu” (tanpa ada garis pembatas). Sayyidi Badawi lalu mengatakan : “Di tempat thowaf sana, dimana banyak orang yang menunaikan ibadah haji disekitar Ka’bah, mereka juga bercampur laki-laki dan perempuan, kenapa tidak ada yang melarang”. Demi mulianya Tuhanku, orang-orang yang ada untuk menghadiri acara maulidku ini tidaklah ada yang menjalankan dosa kecuali pasti mau bertaubat dan akan bagus taubatnya. Hewan-hewan di hutan dan ikan-ikan di laut, semua itu dapat aku pelihara dan kulindungi diantara satu dengan lainnya sehingga menjadi aman dengan idzin Allah. Lalu, apakah kiranya Allah Ta’ala, tidak akan memberi aku kekuatan untuk mampu menjaga dan memelihara keamanannya orang-orang yang menghadiri acara maulidku itu ?”
Suatu ketika Syeikh Ibnu Daqiqil berkumpul dengan Sayyidi Badawi, dan ia bertanya kepada beliau : “Mengapa engkau tidak pernah sholat, yang demikian itu bukanlah perjalanannya para shalihin“. Lalu beliau menjawab : “Diam kamu! Kalau tidak mau diam aku hamburkan daqiqmu (tepung)”. Dan di tendanglah Syeikh Daqiqil oleh beliau hingga berada disuatu pulau yang luas dalam kondisi tidak sadarkan diri. Setelah sadar, iapun termangu karena merasa asing dengan pulau tersebut. Dalam kebingungannya, datanglah seorang lelaki menghampirinya dan memberi nasehat agar jangan mengganggu orang type al-Badawi, dan sekarang kamu berjalanlah menuju qubah yang terlihat itu, nanti jika sudah tiba di sana kau berhentilah di depan pintu hingga menunggu waktu ‘ashar dan ikutlah shalat berjamaah dibelakangnya imam tersebut, sebab nanti Ahmad Badawi akan ikut di dalamnya.
Setelah bertemu dia ucapkanlah salam, peganglah lengan bajunya dan mohonlah ampun atas ucapanmu tadi. Ia menuruti kata-kata orang itu yang tidak lain adalah Nabiyullah Khidir a.s. Setelah semua nasehatnya dilaksanakan, betapa terkejutnya ia karena yang menjadi imam sholat waktu itu adalah Sayyidi Badawi. Setelah selesai sholat ia langsung menghampiri dan menciumi tangan dan menarik lengan Sayyidi al-Badawi, sambil berkata seperti yang diamanatkan orang tadi. Dan berkatalah Sayyidi Badawi sambil menendang Syeikh Daqiqil,” Pergilah sana murid-muridmu sudah menantimu dan jangan kau ulangi lagi!. Seketika itu juga ia sudah sampai di rumahnya dan murid-muridnya telah menunggu kedatangan Syeikh Daqiqil. Dijelaskan bahwa yang menjadi makmum sholat berjamaah dengan Sayyidi Badawi pada kejadian itu adalah para wali.
Syekh Imam al Munawi berkata : “Ada seorang Syeikh yang setiap akan bepergian selalu berziarah di makamnya Syeikh Ahmad al Badawi untuk minta ijin, lalu terdengar suara dari dalam kubur dengan jelas :”Ya pergilah dengan tawakkal, Insya Allah niatmu berhasil, kejadian tersebut didengar juga oleh Syeikh abdul wahab Assya’roni, padahal saat itu Syeikh Ahmad al Badawi sudah meninggal 200 tahun silam, jadi para aulia’ itu walaupun sudah meninggal ratusan tahun, namun masih bisa emberi petunjuk.
Berkata Syeikh Muhammad al-Adawi : Setengah dari keindahan keramat beliau ialah, pada saat banyaknya orang yang ingin berusaha membatalkan peringatan maulidnya beliau, dimana orang-orang tersebut menghadap dan meminta kepada Syeikh Imam Yahya al-Munawiy agar beliau mau menyetujuinya. Sebagai orang yang berpengaruh dan berpendirian kuat pada masa itu, Syeikh Yahya tidak menyetujuinya, akhirnya orang-orang tersebut melapor kepada sang raja azh-Zhohir Jaqmaq. Sang rajapun berusaha membujuk agar Syeikh Yahya bersedia memberi fatwa untuk membatalkan maulidnya Sayyidi Badawi. Akan tetapi Syeikh Yahya tetap tidak mau dan hanya bersedia memberikan fatwa melarang keharaman-haraman yang terjadi di acara itu. Maka acara maulid tetap dilaksanakan seperti biasa. Dan Syeikh Yahya bekata kepada sang raja: “Aku tetap tak berani sama sekali berfatwa yang demikian, karena Sayyidi Badawi adalah wali yang agung dan seorang fanatik (malati = bahasa jawanya). Hai raja, tunggu saja, kamu akan tahu akibat bahayanya orang-orang yang berusaha menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi.
Memang benar, tak lama kemudian mereka yang bertujuan menghilangkan peringatan maulid Sayyidi Badawi tertimpa bencana. Orang-orang tersebut ada yang dicopot jabatannya dan diasingkan oleh rajanya. Ada yang melarikan diri ke Dimyath akan tetapi kemudian ditarik kembali dan diberi pengajaran, dirantai dan dipenjara selama setengah bulan. Bahkan diantara mereka yang mempunyai jabatan tinggi dikerajaan itu lalu banyak yang ditangkap, disidang dengan kelihatan terhina, disiksa dan diborgol besi di depan majlis hakim syara’ lalu dihadapkan raja yang kemudian dibuang di negara Maghrib.
Sayyidi Ahmad Badawi pernah berkata kepada seseorang : “Bahwa pada tahun ini hendaknya kamu menyimpan gandum yang banyak yang tujuanmu nanti akan kau berikan kepada para fakir miskin, sebab nanti akan terjadi musim paceklik pangan. Kemudian orang tadi menjalankan apa yang diperintahkan beliau, dan akhirnya memang terbukti kebenaran ucapan Sayyidi Badawi.
Berkata al-Imam Sya’roni : “Pada tahun 948 H aku ketinggalan tidak dapat menghadiri acara maulidnya Sayyidi Badawi. Lalu ada salah satu aulia’ memberi tahu kepadaku bahwa Sayyidi Badawi pada waktu peringatan itu memperlihatkan diri di makamnya dan bertanya : “Mana Abdul Wahhab Sya’roni, kenapa tidak datang ?” Pada suatu tahun, al-Imam Sya’roni juga pernah berkeinginan tidak akan mendatangi maulid beliau. Lalu aku melihat beliau memegang pelepah kurma hijau sambil mengajak orang-orang dari berbagai negara. Jadi orang-orang yang berada dibelakangnya, dikanan dan kirinya banyak sekali tak terhingga jumlahnya.
Terus beliau melewati aku di Mesir, sayyidi Badawi berkata : “Kenapa kamu tidak berangkat ?”. Aku sedang sakit tuan, jawabku. Sakit tidak menghalang-halangi orang cinta. Terus aku diperlihatkan orang banyak dari para aulia’dan para masayikh, baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat, dan orang-orang yang lumpuh semua berjalan dengan merangkak dan memakai kain kafannya, mereka mengikuti dibelakang sayyidi Badawi menghadiri maulid beliau. Terus aku juga diperlihatkan jama’ah dan sekelompok tawanan yang masih dalam keadaan terbalut dan terbelenggu juga ikut datang menghadiri maulidnya. Lalu beliau berkata: lihatlah ! itu semua tidak ada yang mau ketinggalan, akhirnya aku berkehendak untuk mau menghadiri, dan aku berkata : Insya Allah aku hadir tuan guru ?. Kalau begitu kamu harus dengan pendamping, jawab sayyidi Badawi.
Kemudian beliau memberi aku dua harimau hitam besar dan gajah, yang dijanji tidak akan berpisah denganku sebelum sampai di tempat. Peristiwa ini kemudian aku ceritakan kepada guruku Syeikh Muhammad asy-Syanawi, beliau lalu menjelaskan: memang pada umumnya para aulia’ mengajak orang-orang itu dengan perantaraan, akan tetapi sayyidi Ahmad Badawi langsung dengan sendirinya menyuruh orang-orang mengajak datang. Sungguh banyak keramat beliau, hingga al-Imam Sya’roni mengatakan,”Seandainya keajaiban atau keramat-keramat beliau kalau ditulis di dalam buku tidaklah akan muat karena terlalu banyaknya. Tetapi ada peninggalan Syeikh ahmad Badawi yang sangat utama, yaitu bacaan sholawat badawiyah sughro dan sholawat badawiyah kubro. Demikianlah sekelumit manakib Sayyidi Ahmad Al Badawi disajikan kehadapan pembaca, untuk dapat diambil hikmahnya, DUSTUR YA SAYYIDI AHMAD AL BADAWI
Biografi syekh ahmad Rifa'i
Sayyidi Ahmad Al Rifa’i dilahirkan pada tahun 500 Hijriah. Pertama kali
beliau belajar Ilmu Fiqih Mazhab Syafi’i dengan mempelajari Kitab
Al-Tanbih, akan tetapi beliau lebih cenderung kepada ilmu tasawuf.
Beliau terkenal sebagi rujukan pimpinan ilmu thoriqoh, karena memiliki
ilmu haqiqat yang tinggi dan sebagai wali qutub yang agung dan masyhur
di zaman sesudah syeikh Abdul Qodir al Jailany ra. Beliau sangat
terkenal dan memiliki pengikut yang banyak. Para pengikutnya terkenal
dengan sebutan “Al-Thoifah Al-Rifa’iyah”.
Dalam kitab Tobaqot diterangkan, pada saat mengajar syeikh Ahmad Rifa’i tidak mau sambil berdiri. Orang-orang yang tinggalnya jauh bisa mendengar apa yang disampaikan beliau sama seperti orang yang dekat dengan tempat pengajian. Sehingga penduduk disekitar desa Ummi Abidah banyak yang keluar dari rumahnya untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh syeikh Ahmad Rifa’i ini. Bahkan orang yang tadinya tuli jika mau hadir mengaji oleh Allah, dibukakan pendengarannya sehingga bisa mendengar apa yang disabdakan oleh syeikh Ahmad Rifa’i. Para guru thoriqoh banyak yang hadir untuk mendengarkan sabda-sabda dari Syeikh Ahmad Al Rifa’i dengan menggelar sajadah sebagai tempat duduk. Setelah syeikh Ahmad selesai memberi pelajaran, mereka pulang sambil menempelkan sajadah kedadanya masing-masing, sehingga sesampai di rumah mereka bisa menjelaskan kepada para muridnya.
Banyak hal aneh yang sering terjadi pada diri murid Syeikh Ahmad Rifa’i seperti, mereka dapat masuk ke dalam api yang sedang menyala. Mereka juga dapat menjinakkan binatang buas, seperti harimau di mana hewan ini akan menuruti apa yang mereka katakan. Sehingga harimau ini dapat dijadikan kendaraan oleh mereka. Banyak lagi keajaiban-keajaiban lain yang ada pada mereka.
Ketika pertama kali Sayyidi Ahmad bertemu dengan seorang Wali bernama Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Syeikh ini memberinya pelajaran berupa sindiran tetapi sangat berkesan buat Syeikh Ahmad Al Rifa’i. Sindiran itu berbunyi ; Orang yang berpaling dia tiada sampai. Orang yang ragu-ragu tidak dapat kemenangan. Barangsiapa tidak mengetahui waktunya kurang, maka semua waktunya telah kurang. Setahun lamanya Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang perkataan ini.
Setelah setahun dia datang kembali menemui Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i minta wasiat lagi, maka berkata Syeikh Abdul Malik; Sangatlah keji kejahilan bagi orang-orang yang mempunyai Akal; Sangatlah keji penyakit pada sisi semua doktor; Sangatlah keji sekalian kekasih yang meninggalkan Wusul (sampai kepada Allah). Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang pula perkatan itu selama setahun dan beliau banyak mendapat manfaat dari perkataan itu karena perkataan itu diresapi, dihayati dan diamalkan.
Salah satu dari sekian budi pekerti Syeikh Ahmad Al Rifa’i yang mulia ialah beliau seringkali membawa serta membersihkan pakaian orang-orang yang berpenyakit kusta dan beberapa penyakit yang sangat menjijikkan menurut pandangan umum. Dipeliharanya orang-orang yang sedang sakit itu; diantarkan makanan untuk mereka dan beliau juga turut makan bersama-sama dengan orang-orang sakit itu tanpa ada rasa jijik.
Kalau Syeikh Ahmad Al Rifa’i datang dari perjalanan, apabila telah dekat dengan kampung halamannya maka dipungutnya kayu bakar, setelah itu dibagi-bagikan kepada orang-orang sakit, orang buta, orang-orang jompo atau orang tua yang membutuhkan pertolongan. Syeikh Ahmad berkata : “Mendatangi orang-orang yang semacam itu bagi kita wajib bukan hanya sunah. Bahkan Nabi bersabda : “Barang siapa yang memuliakan orang tua yang Islam, maka Allah akan meluluhkan orang untuk memuliakannya apabila ia sudah tua”.
Beliau setiap dijalan selalu menanti datangnya orang buta, kalau ada orang buta datang lalu dipegang dan dituntun sampai tujuan. Beliau mempunyai kasih sayang bukan hanya kepada manusia saja, tetapi juga kepada binatang, sehingga kalau bertemu dengan siapa saja selalu mendahului memberi salam, bahkan juga kepada hewan. Diriwayatkan bahwa ada seekor anjing yang menderita sakit kusta. Kemana saja anjing itu pergi, ia akan diusir. Anjing tersebut diambil oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i lalu dimandikan dengan air panas, diberikan obat dan makan secukupnya, sampai anjing tersebut sembuh dari penyakit yang dideritanya. Kalau ada orang yang bertanya tentang apa yang diperbuatnya beliau berkata : “Aku selalu membiasakan pekerjaan yang baik. Syeikh Ahmad ini kalau dihinggapi nyamuk beliau membiarkannya dan tidak boleh ada orang lain yang mengusirnya. Beliau berkata, “Biarkanlah dia meminum darah yang dibagikan Allah kepadanya. Pada suatu hari ada seekor kucing sedang nyenyak tidur di atas lengan bajunya. Waktu sholat telah masuk, lalu digunting lengan bajunya itu karena tidak sampai hati mengejutkan kucing yang sedang lelap tidur itu. Seusai sholat lengan bajunya diambil dan dijait lagi.
Budi pekerti mulia yang lain ialah beliau tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Apabila beliau dimaki oleh orang, beliau terus menundukkan kepalanya mencium bumi dan menangis serta meminta maaf kepada yang memakinya. Beliau pernah dikirimi surat oleh Syeikh Ibrohim al Basity yang isi suratnya merendahkan martabat beliau, lalu beliau berkata kepada orang yang menyampaikan surat itu : “Coba bacalah surat itu, dan ternyata isinya adalah : “Hai orang yang buta sebelah, hai dajjal, hai orang yang bikin bid’ah dan berbagai macam perkataan yang menyakitkan hati. Setelah selesai membaca surat kemudian surat itu diterima oleh syeikh Ahmad, dibaca kemudian berkata : “Ini semua betul, smoga Allah membalas kebaikan kepadanya. Beliau terus berkata dengan syiir, “Maka tidaklah aku peduli kepada orang yang meragukan aku yang penting menurut Allah, aku bukanlah orang yang meragukan. Kemudian syeikh berkata : “Tulislah sekarang jawaban balasanku yang berbunyi “Dari orang rendahan kepada tuanku syeikh Ibrohim. Mengenai tulisanmu seperti yang tertera dalam surat, memang Allah telah menjadikan aku menurut apa yang dikehendaki-Nya dan aku mengharapkanmu hendaknya sudi bersedekah kepadaku dengan mendo’akan dan memaafkanku. Setelah surat balasan ini sampai pada syeikh Ibrohim dan dibaca isinya, kemudian syeikh Ibrohim pergi entah kemana tidak ada orang yang tahu.
Jika ada orang minta dituliskan azimat kepadanya, maka Syeikh Ahmad mengambil kertas lalu ditulis tanpa pena. Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata ; “Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Qutub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu daripada Qutubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghauts!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghautsiyah”. Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i telah melampaui “Maqaamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).
Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, “Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, “Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana yaa kanjeng syeikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab, “Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah
Dalam kitab Tobaqot diterangkan, pada saat mengajar syeikh Ahmad Rifa’i tidak mau sambil berdiri. Orang-orang yang tinggalnya jauh bisa mendengar apa yang disampaikan beliau sama seperti orang yang dekat dengan tempat pengajian. Sehingga penduduk disekitar desa Ummi Abidah banyak yang keluar dari rumahnya untuk mendengarkan apa yang disampaikan oleh syeikh Ahmad Rifa’i ini. Bahkan orang yang tadinya tuli jika mau hadir mengaji oleh Allah, dibukakan pendengarannya sehingga bisa mendengar apa yang disabdakan oleh syeikh Ahmad Rifa’i. Para guru thoriqoh banyak yang hadir untuk mendengarkan sabda-sabda dari Syeikh Ahmad Al Rifa’i dengan menggelar sajadah sebagai tempat duduk. Setelah syeikh Ahmad selesai memberi pelajaran, mereka pulang sambil menempelkan sajadah kedadanya masing-masing, sehingga sesampai di rumah mereka bisa menjelaskan kepada para muridnya.
Banyak hal aneh yang sering terjadi pada diri murid Syeikh Ahmad Rifa’i seperti, mereka dapat masuk ke dalam api yang sedang menyala. Mereka juga dapat menjinakkan binatang buas, seperti harimau di mana hewan ini akan menuruti apa yang mereka katakan. Sehingga harimau ini dapat dijadikan kendaraan oleh mereka. Banyak lagi keajaiban-keajaiban lain yang ada pada mereka.
Ketika pertama kali Sayyidi Ahmad bertemu dengan seorang Wali bernama Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Syeikh ini memberinya pelajaran berupa sindiran tetapi sangat berkesan buat Syeikh Ahmad Al Rifa’i. Sindiran itu berbunyi ; Orang yang berpaling dia tiada sampai. Orang yang ragu-ragu tidak dapat kemenangan. Barangsiapa tidak mengetahui waktunya kurang, maka semua waktunya telah kurang. Setahun lamanya Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang perkataan ini.
Setelah setahun dia datang kembali menemui Syeikh Abdul Malik Al-Khonubi. Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i minta wasiat lagi, maka berkata Syeikh Abdul Malik; Sangatlah keji kejahilan bagi orang-orang yang mempunyai Akal; Sangatlah keji penyakit pada sisi semua doktor; Sangatlah keji sekalian kekasih yang meninggalkan Wusul (sampai kepada Allah). Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i mengulang-ulang pula perkatan itu selama setahun dan beliau banyak mendapat manfaat dari perkataan itu karena perkataan itu diresapi, dihayati dan diamalkan.
Salah satu dari sekian budi pekerti Syeikh Ahmad Al Rifa’i yang mulia ialah beliau seringkali membawa serta membersihkan pakaian orang-orang yang berpenyakit kusta dan beberapa penyakit yang sangat menjijikkan menurut pandangan umum. Dipeliharanya orang-orang yang sedang sakit itu; diantarkan makanan untuk mereka dan beliau juga turut makan bersama-sama dengan orang-orang sakit itu tanpa ada rasa jijik.
Kalau Syeikh Ahmad Al Rifa’i datang dari perjalanan, apabila telah dekat dengan kampung halamannya maka dipungutnya kayu bakar, setelah itu dibagi-bagikan kepada orang-orang sakit, orang buta, orang-orang jompo atau orang tua yang membutuhkan pertolongan. Syeikh Ahmad berkata : “Mendatangi orang-orang yang semacam itu bagi kita wajib bukan hanya sunah. Bahkan Nabi bersabda : “Barang siapa yang memuliakan orang tua yang Islam, maka Allah akan meluluhkan orang untuk memuliakannya apabila ia sudah tua”.
Beliau setiap dijalan selalu menanti datangnya orang buta, kalau ada orang buta datang lalu dipegang dan dituntun sampai tujuan. Beliau mempunyai kasih sayang bukan hanya kepada manusia saja, tetapi juga kepada binatang, sehingga kalau bertemu dengan siapa saja selalu mendahului memberi salam, bahkan juga kepada hewan. Diriwayatkan bahwa ada seekor anjing yang menderita sakit kusta. Kemana saja anjing itu pergi, ia akan diusir. Anjing tersebut diambil oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i lalu dimandikan dengan air panas, diberikan obat dan makan secukupnya, sampai anjing tersebut sembuh dari penyakit yang dideritanya. Kalau ada orang yang bertanya tentang apa yang diperbuatnya beliau berkata : “Aku selalu membiasakan pekerjaan yang baik. Syeikh Ahmad ini kalau dihinggapi nyamuk beliau membiarkannya dan tidak boleh ada orang lain yang mengusirnya. Beliau berkata, “Biarkanlah dia meminum darah yang dibagikan Allah kepadanya. Pada suatu hari ada seekor kucing sedang nyenyak tidur di atas lengan bajunya. Waktu sholat telah masuk, lalu digunting lengan bajunya itu karena tidak sampai hati mengejutkan kucing yang sedang lelap tidur itu. Seusai sholat lengan bajunya diambil dan dijait lagi.
Budi pekerti mulia yang lain ialah beliau tidak mau membalas kejahatan dengan kejahatan. Apabila beliau dimaki oleh orang, beliau terus menundukkan kepalanya mencium bumi dan menangis serta meminta maaf kepada yang memakinya. Beliau pernah dikirimi surat oleh Syeikh Ibrohim al Basity yang isi suratnya merendahkan martabat beliau, lalu beliau berkata kepada orang yang menyampaikan surat itu : “Coba bacalah surat itu, dan ternyata isinya adalah : “Hai orang yang buta sebelah, hai dajjal, hai orang yang bikin bid’ah dan berbagai macam perkataan yang menyakitkan hati. Setelah selesai membaca surat kemudian surat itu diterima oleh syeikh Ahmad, dibaca kemudian berkata : “Ini semua betul, smoga Allah membalas kebaikan kepadanya. Beliau terus berkata dengan syiir, “Maka tidaklah aku peduli kepada orang yang meragukan aku yang penting menurut Allah, aku bukanlah orang yang meragukan. Kemudian syeikh berkata : “Tulislah sekarang jawaban balasanku yang berbunyi “Dari orang rendahan kepada tuanku syeikh Ibrohim. Mengenai tulisanmu seperti yang tertera dalam surat, memang Allah telah menjadikan aku menurut apa yang dikehendaki-Nya dan aku mengharapkanmu hendaknya sudi bersedekah kepadaku dengan mendo’akan dan memaafkanku. Setelah surat balasan ini sampai pada syeikh Ibrohim dan dibaca isinya, kemudian syeikh Ibrohim pergi entah kemana tidak ada orang yang tahu.
Jika ada orang minta dituliskan azimat kepadanya, maka Syeikh Ahmad mengambil kertas lalu ditulis tanpa pena. Sewaktu beliau pergi Haji, ketika berziarah ke Maqam Nabi Muhammad Saw, maka nampak tangan dari dalam kubur Nabi bersalaman dengan beliau dan beliau pun terus mencium tangan Nabi SAW yang mulia itu. Kejadian itu dapat disaksikan oleh orang ramai yang juga berziarah ke Maqam Nabi Saw tersebut. Salah seorang muridnya berkata ; “Ya Sayyidi! Tuan Guru adalah Qutub”. Jawabnya; “Sucikan olehmu syak mu daripada Qutubiyah”. Kata murid: “Tuan Guru adalah Ghauts!”. Jawabnya: “Sucikan syakmu daripada Ghautsiyah”. Al-Imam Sya’roni mengatakan bahwa yang demikian itu adalah dalil bahwa Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i telah melampaui “Maqaamat” dan “Athwar” karena Qutub dan Ghauts itu adalah Maqam yang maklum (diketahui umum).
Sebelum wafat beliau telah menceritakan kapan waktunya akan meninggal dan sifat-sifat hal ihwalnya beliau. Beliau akan menjalani sakit yang sangat parah untuk menangung bilahinya para makhluk. Sabdanya, “Aku telah di janji oleh Allah, agar nyawaku tidak melewati semua dagingku (daging harus musnah terlebih dahulu). Ketika Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i sakit yang mengakibatkan kewafatannya, beliau berkata, “Sisa umurku akan kugunakan untuk menanggung bilahi agungnya para makhluk. Kemudian beliau menggosok-ngosokkan wajah dan uban rambut beliau dengan debu sambil menangis dan beristighfar . Yang dideritai oleh Sayyidi Ahmad Al-Rifa’i ialah sakit “Muntah Berak”. Setiap hari tak terhitung banyaknya kotoran yang keluar dari dalam perutnya. Sakit itu dialaminya selama sebulan. Hingga ada yang tanya, “Kok, bisa sampai begitu banyaknya yang keluar, dari mana yaa kanjeng syeikh. Padahal sudah dua puluh hari tuan tidak makan dan minum. Beliau menjawab, “Karena ini semua dagingku telah habis, tinggal otakku, dan pada hari ini nanti juga akan keluar dan besok aku akan menghadap Sang Maha Kuasa. Setelah itu ketika wafatnya, keluarlah benda yang putih kira-kira dua tiga kali terus berhenti dan tidak ada lagi yang keluar dari perutnya. Demikian mulia dan besarnya pengorbanan Aulia Allah ini sehingga sanggup menderita sakit menanggung bala yang sepatutnya tersebar ke atas manusia lain. Wafatlah Wali Allah yang berbudi pekerti yang halus lagi mulia ini pada hari Kamis waktu duhur 12 Jumadil Awal tahun 570 Hijrah. Riwayat yang lain mengatakan tahun 578 Hijrah
Jadwal Pertandingan Manchester United ( MU ) 2012/2013
Waktu Kandan vs Tandang Tempat
18 Agu 2012 Everton vs Manchester United Liga Primer Inggris
25 Agu 2012 Manchester United vs Fulham Liga Primer Inggris
1 Sep 2012 Southampton vs Manchester United Liga Primer Inggris
15 Sep 2012 Manchester United vs Wigan Athletic Liga Primer Inggris
22 Sep 2012 Liverpool vs Manchester United Liga Primer Inggris
29 Sep 2012 Manchester United vs Tottenham Liga Primer Inggris
6 Okt 2012 Newcastle United vs Manchester United Liga Primer Inggris
20 Okt 2012 Manchester United vs Stoke City Liga Primer Inggris
27 Okt 2012 Chelsea vs Manchester United Liga Primer Inggris
3 Nov 2012 Manchester United vs Arsenal Liga Primer Inggris
10 Nov 2012 Aston Villa vs Manchester United Liga Primer Inggris
17 Nov 2012 Norwich City vs Manchester United Liga Primer Inggris
24 Nov 2012 Manchester United vs Queens Park Rangers Liga Primer Inggris
28 Nov 2012 Manchester United vs West Ham United Liga Primer Inggris
1 Des 2012 Reading vs Manchester United Liga Primer Inggris
8 Des 2012 Manchester City vs Manchester United Liga Primer Inggris
15 Des 2012 Manchester United vs Sunderland Liga Primer Inggris
22 Des 2012 Swansea City vs Manchester United Liga Primer Inggris
26 Des 2012 Manchester United vs Newcastle United Liga Primer Inggris
29 Des 2012 Manchester United vs West Bromwich Albion Liga Primer Inggris
1 Jan 2013 Wigan Athletic vs Manchester United Liga Primer Inggris
12 Jan 2013 Manchester United vs Liverpool Liga Primer Inggris
19 Jan 2013 Tottenham vs Manchester United Liga Primer Inggris
30 Jan 2013 Manchester United vs Southampton Liga Primer Inggris
2 Feb 2013 Fulham vs Manchester United Liga Primer Inggris
9 Feb 2013 Manchester United vs Everton Liga Primer Inggris
23 Feb 2013 Queens Park Rangers vs Manchester United Liga Primer Inggris
2 Mar 2013 Manchester United vs Norwich City Liga Primer Inggris
9 Mar 2013 West Ham United vs Manchester United Liga Primer Inggris
16 Mar 2013 Manchester United vs Reading Liga Primer Inggris
30 Mar 2013 Sunderland vs Manchester United Liga Primer Inggris
6 Apr 2013 Manchester United vs Manchester City Liga Primer Inggris
13 Apr 2013 Stoke City vs Manchester United Liga Primer Inggris
20 Apr 2013 Manchester United vs Aston Villa Liga Primer Inggris
27 Apr 2013 Arsenal vs Manchester United Liga Primer Inggris
4 Mei 2013 Manchester United vs Chelsea Liga Primer Inggris
12 Mei 2013 Manchester United vs Swansea City Liga Primer Inggris
19 Mei 2013 West Bromwich Albion vs Manchester United Liga Primer Inggris Read more at: http://infokuh.blogspot.com/2012/09/jadwal-pertandingan-manchester-united.html Copyright by Infokuh.blogspot.com Terima kasih sudah menyebarluaskan artikel ini
Jadwal Pertandingan Manchester United ( MU ) 2012/2013
Waktu Kandan vs Tandang Tempat
18 Agu 2012 Everton vs Manchester United Liga Primer Inggris
25 Agu 2012 Manchester United vs Fulham Liga Primer Inggris
1 Sep 2012 Southampton vs Manchester United Liga Primer Inggris
15 Sep 2012 Manchester United vs Wigan Athletic Liga Primer Inggris
22 Sep 2012 Liverpool vs Manchester United Liga Primer Inggris
29 Sep 2012 Manchester United vs Tottenham Liga Primer Inggris
6 Okt 2012 Newcastle United vs Manchester United Liga Primer Inggris
20 Okt 2012 Manchester United vs Stoke City Liga Primer Inggris
27 Okt 2012 Chelsea vs Manchester United Liga Primer Inggris
3 Nov 2012 Manchester United vs Arsenal Liga Primer Inggris
10 Nov 2012 Aston Villa vs Manchester United Liga Primer Inggris
17 Nov 2012 Norwich City vs Manchester United Liga Primer Inggris
24 Nov 2012 Manchester United vs Queens Park Rangers Liga Primer Inggris
28 Nov 2012 Manchester United vs West Ham United Liga Primer Inggris
1 Des 2012 Reading vs Manchester United Liga Primer Inggris
8 Des 2012 Manchester City vs Manchester United Liga Primer Inggris
15 Des 2012 Manchester United vs Sunderland Liga Primer Inggris
22 Des 2012 Swansea City vs Manchester United Liga Primer Inggris
26 Des 2012 Manchester United vs Newcastle United Liga Primer Inggris
29 Des 2012 Manchester United vs West Bromwich Albion Liga Primer Inggris
1 Jan 2013 Wigan Athletic vs Manchester United Liga Primer Inggris
12 Jan 2013 Manchester United vs Liverpool Liga Primer Inggris
19 Jan 2013 Tottenham vs Manchester United Liga Primer Inggris
30 Jan 2013 Manchester United vs Southampton Liga Primer Inggris
2 Feb 2013 Fulham vs Manchester United Liga Primer Inggris
9 Feb 2013 Manchester United vs Everton Liga Primer Inggris
23 Feb 2013 Queens Park Rangers vs Manchester United Liga Primer Inggris
2 Mar 2013 Manchester United vs Norwich City Liga Primer Inggris
9 Mar 2013 West Ham United vs Manchester United Liga Primer Inggris
16 Mar 2013 Manchester United vs Reading Liga Primer Inggris
30 Mar 2013 Sunderland vs Manchester United Liga Primer Inggris
6 Apr 2013 Manchester United vs Manchester City Liga Primer Inggris
13 Apr 2013 Stoke City vs Manchester United Liga Primer Inggris
20 Apr 2013 Manchester United vs Aston Villa Liga Primer Inggris
27 Apr 2013 Arsenal vs Manchester United Liga Primer Inggris
4 Mei 2013 Manchester United vs Chelsea Liga Primer Inggris
12 Mei 2013 Manchester United vs Swansea City Liga Primer Inggris
19 Mei 2013 West Bromwich Albion vs Manchester United Liga Primer Inggris Read more at: http://infokuh.blogspot.com/2012/09/jadwal-pertandingan-manchester-united.html Copyright by Infokuh.blogspot.com Terima kasih sudah menyebarluaskan artikel ini
Kamis, 01 November 2012
Tarekat Qadiriyah
Tumbuhnya
tarekat dalam Islam sesungguhnya bersamaan dengan kelahiran agama Islam
itu sendiri, yaitu sejak Nabi Muhammad saw diutus menjadi Rasul. Fakta
sejarah menunjukkan bahwa pribadi Nabi Muhammad saw sebelum diangkat
menjadi Rasul telah berulang kali melakukan tahannust dan khalwat di Gua
Hira’ di samping untuk mengasingkan diri dari masyarakat Makkah yang
sedang mabuk mengikuti hawa nafsu keduniaan. Tahhanust dan Khalwat nabi
adalah untuk mencari ketenangan jiwa dan kebersihan hati dalam menempuh
problematika dunia yang kompleks tersebut.
Proses
khalwat nabi yang kemudian disebut tarekat tersebut sekaligus
diajarkannya kepada Sayyidina Ali ra. sebagai cucunya. Dan dari situlah
kemudian Ali mengajarkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya sampai
kepada Syeikh Abdul Qodir Jaelani, sehingga tarekatnya dinamai
Qodiriyah. Sebagaimana dalam silsilah tarekat Qadiriyah yang merujuk
pada Ali dan Abdul Qadir Jaelani dan seterusnya adalah dari Nabi
Muhammad saw, dari Malaikat Jibril dan dari Allah Swt.
Tarekat
Qodiryah didirikan oleh Syeikh Abdul Qodir Jaelani (wafat 561 H/1166M)
yang bernama lengkap Muhy al-Din Abu Muhammad Abdul Qodir ibn Abi Shalih
Zango Dost al-Jaelani. Lahir di di Jilan tahun 470 H/1077 M dan wafat
di Baghdad pada 561 H/1166 M. Dalam usia 8 tahun ia sudah meninggalkan
Jilan menuju Baghdad pada tahun 488 H/1095 M. Karena tidak diterima
belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad, yang waktu itu dipimpin Ahmad
al-Ghazali, yang menggantikan saudaranya Abu Hamid al-Ghazali. Tapi,
al-Ghazali tetap belajar sampai mendapat ijazah dari gurunya yang
bernama Abu Yusuf al-Hamadany (440-535 H/1048-1140 M) di kota yang sama
itu sampai mendapatkan ijazah.
Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baggdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpinan anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Bagdad pada tahun 656 H/1258 M.
Pada tahun 521 H/1127 M, dia mengajar dan berfatwa dalam semua madzhab pada masyarakat sampai dikenal masyarakat luas. Selama 25 tahun Abdul Qadir Jaelani menghabiskan waktunya sebagai pengembara sufi di Padang Pasir Iraq dan akhirnya dikenal oleh dunia sebagai tokoh sufi besar dunia Islam. Selain itu dia memimpin madrasah dan ribath di Baggdad yang didirikan sejak 521 H sampai wafatnya di tahun 561 H. Madrasah itu tetap bertahan dengan dipimpin anaknya Abdul Wahab (552-593 H/1151-1196 M), diteruskan anaknya Abdul Salam (611 H/1214 M). Juga dipimpinan anak kedua Abdul Qadir Jaelani, Abdul Razaq (528-603 H/1134-1206 M), sampai hancurnya Bagdad pada tahun 656 H/1258 M.
Sejak
itu tarekat Qodiriyah terus berkembang dan berpusat di Iraq dan Syria
yang diikuti oleh jutaan umat yang tersebar di Yaman, Turki, Mesir,
India, Afrika dan Asia. Namun meski sudah berkembang sejak abad ke-13,
tarekat ini baru terkenal di dunia pada abad ke 15 M. Di India misalnya
baru berkembang setelah Muhammad Ghawsh (w 1517 M) juga mengaku
keturunan Abdul Qodir Jaelani. Di Turki oleh Ismail Rumi (w 1041 H/1631
M) yang diberi gelar (mursyid kedua). Sedangkan di Makkah, tarekat
Qodiriyah sudah berdiri sejak 1180 H/1669 M.
Tarekat
Qodiriyah ini dikenal luwes. Yaitu bila murid sudah mencapai derajat
syeikh, maka murid tidak mempunyai suatu keharusan untuk terus mengikuti
tarekat gurunya. Bahkan dia berhak melakukan modifikasi tarekat yang
lain ke dalam tarekatnya. Hal itu seperti tampak pada ungkapan Abdul
Qadir Jaelani sendiri,”Bahwa murid yang sudah mencapai derajat gurunya,
maka dia jadi mandiri sebagai syeikh dan Allah-lah yang menjadi walinya
untuk seterusnya.”
Mungkin
karena keluwesannya tersebut, sehingga terdapat puluhan tarekat yang
masuk dalam kategori Qidiriyah di dunia Islam. Seperti Banawa yang
berkembang pada abad ke-19, Ghawtsiyah (1517), Junaidiyah (1515 M),
Kamaliyah (1584 M), Miyan Khei (1550 M), Qumaishiyah (1584), Hayat
al-Mir, semuanya di India. Di Turki terdapat tarekat Hindiyah,
Khulusiyah, Nawshahi, Rumiyah (1631 M), Nabulsiyah, Waslatiyyah. Dan di
Yaman ada tarekat Ahdaliyah, Asadiyah, Mushariyyah, ‘Urabiyyah,
Yafi’iyah (718-768 H/1316 M) dan Zayla’iyah. Sedangkan di Afrika
terdapat tarekat Ammariyah, Bakka’iyah, Bu’ Aliyya, Manzaliyah dan
tarekat Jilala, nama yang biasa diberikan masyarakat Maroko kepada Abdul
Qodir Jilani. Jilala dimasukkan dari Maroko ke Spanyol dan diduga
setelah keturunannya pindah dari Granada, sebelum kota itu jatuh ke
tangan Kristen pada tahun 1492 M dan makam mereka disebut “Syurafa
Jilala”.
Dari
ketaudanan nabi dan sabahat Ali ra dalam mendekatkan diri kepada Allah
swt tersebut, yang kemudian disebut tarekat, maka tarekat Qodiriyah
menurut ulama sufi juga memiliki tujuan yang sama. Yaitu untuk mendekat
dan mendapat ridho dari Allah swt. Oleh sebab itu dengan tarekat manusia
harus mengetahui hal-ikhwal jiwa dan sifat-sifatnya yang baik dan
terpuji untuk kemudian diamalkan, maupun yang tercela yang harus
ditinggalkannya.
Misalnya
dengan mengucapkan kalimat tauhid, dzikir “Laa ilaha Illa Allah” dengan
suara nyaring, keras (dhahir) yang disebut (nafi istbat) adalah contoh
ucapan dzikir dari Syiekh Abdul Qadir Jaelani dari Sayidina Ali bin Abi
Thalib ra, hingga disebut tarekat Qodiriyah. Selain itu dalam setiap
selesai melaksanakan shalat lima waktu (Dhuhur, Asar, Maghrib, Isya’ dan
Subuh), diwajibkan membaca istighfar tiga kali atau lebih , lalu
membaca salawat tiga kali, Laailaha illa Allah 165 (seratus enam puluh
lima) kali. Sedangkan di luar shalat agar berdzikir semampunya.
Dalam
mengucapkan lafadz Laa pada kalimat “Laa Ilaha Illa Allah” kita harus
konsentrasi dengan menarik nafas dari perut sampai ke otak.
Kemudian
disusul dengan bacaan Ilaha dari arah kanan dan diteruskan dengan
membaca Illa Allah ke arah kiri dengan penuh konsentrasi, menghayati dan
merenungi arti yang sedalam-dalamnya, dan hanya Allah swt-lah tempat
manusia kembali. Sehingga akan menjadikan diri dan jiwanya tentram dan
terhindar dari sifat dan perilaku yang tercela.
Menurut
ulama sufi (al-Futuhat al-Rubbaniyah), melalui tarekat mu’tabarah
tersebut, setiap muslim dalam mengamalkannya akan memiliki keistimewaan,
kelebihan dan karomah masing-masing. Ada yang terkenal sebagai ahli
ilmu agama seperti sahabat Umar bin Khattab, ahli syiddatil haya’
sahabat Usman bin Affan, ahli jihad fisabilillah sahabat Hamzah dan
Khalid bin Walid, ahli falak Zaid al-Farisi, ahli syiir Hasan bin
Tsabit, ahli lagu Alquran sahabat Abdillah bin Mas’ud dan Ubay bin
Ka’ab, ahli hadis Abi Hurairah, ahli adzan sahabat Bilal dan Ibni Ummi
Maktum, ahli mencatat wahyu dari Nabi Muhammad saw adalah sahabat Zaid
bin Tsabit, ahli zuhud Abi Dzarr, ahli fiqh Mu’ad bin Jabal, ahli
politik peperangan sahabat Salman al-Farisi, ahli berdagang adalah
Abdurrahman bin A’uf dan sebagainya.
Bai’at
Untuk mengamalkan tarekat tersebut melalui tahapan-tahan seperti pertama, adanya pertemuan guru (syeikh) dan murid, murid mengerjakan salat dua rakaat (sunnah muthalaq) lebih dahulu, diteruskan dengan membaca surat al-Fatihah yang dihadiahkan kepada Nabi Muhammad saw. Kemudian murid duduk bersila di depan guru dan mengucapkan istighfar, lalu guru mengajarkan lafadz Laailaha Illa Allah, dan guru mengucapkan “infahna binafhihi minka” dan dilanjutkan dengan ayat mubaya’ah (QS Al-Fath 10). Kemudian guru mendengarkan kalimat tauhid (Laa Ilaha Illallah) sebanyak tiga kali sampai ucapan sang murid tersebut benar dan itu dianggap selesai. Kemudian guru berwasiat, membaiat sebagai murid, berdoa dan minum.
Kedua,
tahap perjalanan. Tahapan kedua ini memerlukan proses panjang dan
bertahun-tahun. Karena murid akan menerima hakikat pengajaran, ia harus
selalu berbakti, menjunjung segala perintahnya, menjauhi segala
larangannya, berjuang keras melawan hawa nafsunya dan melatih dirinya
(mujahadah-riyadhah) hingga memperoleh dari Allah seperti yang diberikan
pada para nabi dan wali.
Tarekat
(thariqah) secara harfiah berarti “jalan” sama seperti syariah, sabil,
shirath dan manhaj. Yaitu jalan menuju kepada Allah guna mendapatkan
ridho-Nya dengan mentaati ajaran-ajaran-Nya. Semua perkataan yang
berarti jalan itu terdapat dalam Alquran, seperti QS Al-Jin:16,” Kalau
saja mereka berjalan dengan teguh di atas thariqah, maka Kami (Allah)
pasti akan melimpahkan kepada mereka air (kehidupan sejati) yang
melimpah ruah”.
Istilah
thariqah dalam perbendaharaan kesufian, merupakan hasil makna semantik
perkataan itu, semua yang terjadi pada syariah untuk ilmu hukum Islam.
Setiap ajaran esoterik/bathini mengandung segi-segi eksklusif. Jadi, tak
bisa dibuat untuk orang umum (awam). Segi-segi eksklusif tersebut
misalnya menyangkut hal-hal yang bersifat “rahasia” yang bobot
kerohaniannya berat, sehingga membuatnya sukar dimengerti. Oleh sebab
itu mengamalkan tarekat itu harus melalui guru (mursyid) dengan bai’at
dan guru yang mengajarkannya harus mendapat ijazah, talqin dan wewenang
dari guru tarekat sebelumnya. Seperti terlihat pada silsilah ulama sufi
dari Rasulullah saw, sahabat, ulama sufi di dunia Islam sampai ke ulama
sufi di Indonesia.
Qodiriyah di Indonesia
Seperti
halnya tarekat di Timur Tengah. Sejarah tarekat Qodiriyah di Indonesia
juga berasal dari Makkah al-Musyarrafah. Tarekat Qodiriyah menyebar ke
Indonesia pada abad ke-16, khususnya di seluruh Jawa, seperti di
Pesantren Pegentongan Bogor Jawa Barat, Suryalaya Tasikmalaya Jawa
Barat, Mranggen Jawa Tengah, Rejoso Jombang Jawa Timur dan Pesantren
Tebuireng Jombang Jawa Timur. Syeikh Abdul Karim dari Banten adalah
murid kesayangan Syeikh Khatib Sambas yang bermukim di Makkah, merupakan
ulama paling berjasa dalam penyebaran tarekat Qodiriyah. Murid-murid
Sambas yang berasal dari Jawa dan Madura setelah pulang ke Indonesia
menjadi penyebar Tarekat Qodiriyah tersebut.
Tarekat
ini mengalami perkembangan pesat pada abad ke-19, terutama ketika
menghadapi penjajahan Belanda. Sebagaimana diakui oleh Annemerie
Schimmel dalam bukunya “Mystical Dimensions of Islam” hal.236 yang
menyebutkan bahwa tarekat bisa digalang untuk menyusun kekuatan untuk
menandingi kekuatan lain. Juga di Indonesia, pada Juli 1888, wilayah
Anyer di Banten Jawa Barat dilanda pemberontakan. Pemberontakan petani
yang seringkali disertai harapan yang mesianistik, memang sudah biasa
terjadi di Jawa, terutama dalam abad ke-19 dan Banten merupakan salah
satu daerah yang sering berontak.
Tapi,
pemberontakan kali ini benar-benar mengguncang Belanda, karena
pemberontakan itu dipimpin oleh para ulama dan kiai. Dari hasil
penyelidikan (Belanda, Martin van Bruneissen) menunjukkan mereka itu
pengikut tarekat Qodiriyah, Syeikh Abdul Karim bersama khalifahnya yaitu
KH Marzuki, adalah pemimpin pemberontakan tersebut hingga Belanda
kewalahan. Pada tahun 1891 pemberontakan yang sama terjadi di Praya,
Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB) dan pada tahun 1903 KH Khasan
Mukmin dari Sidoarjo Jatim serta KH Khasan Tafsir dari Krapyak
Yogyakarta, juga melakukan pemberontakan yang sama.
Sementara
itu organisasi agama yang tidak bisa dilepaskan dari tarekat Qodiriyah
adalah organisasi tebrbesar Islam Nahdlaltul Ulama (NU) yang berdiri di
Surabaya pada tahun 1926. Bahkan tarekat yang dikenal sebagai Qadariyah
Naqsabandiyah sudah menjadi organisasi resmi di Indonesia.
Juga
pada organisasi Islam Al-Washliyah dan lain-lainnya. Dalam kitab
Miftahus Shudur yang ditulis KH Ahmad Shohibulwafa Tadjul Arifin (Mbah
Anom) di Pimpinan Pesantren Suryalaya, Tasikmalaya Jabar dalam silsilah
tarekatnya menempati urutan ke-37, sampai merujuk pada Nabi Muhammad
saw, Sayyidina Ali ra, Abdul Qadir Jilani dan Syeikh Khatib Sambas
ke-34.
Sama
halnya dengan silsilah tarekat almrhum KH Mustain Romli, Pengasuh
Pesantren Rejoso Jombang Jatim, yang menduduki urutan ke-41 dan Khatib
Sambas ke-35. Bahwa beliau mendapat talqin dan baiat dari KH Moh Kholil
Rejoso Jombang, KH Moh Kholil dari Syeikh Khatib Sambas ibn Abdul
Ghaffar yang alim dan arifillah (telah mempunyai ma’rifat kepada Allah)
yang berdiam di Makkah di Kampung Suqul Lail.
Silsilahnya.
1. M Mustain Romli, 2, Usman Ishaq, 3. Moh Romli Tamim, 4. Moh Kholil, 5. Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura, 6. Abdul Karim, 7. Ahmad Khotib Sambas ibn Abdul Gaffar, 8. Syamsuddin, 9. Moh. Murod, 10. Abdul Fattah, 11. Kamaluddin, 12. Usman, 13. Abdurrahim, 14. Abu Bakar, 15. Yahya, 16. Hisyamuddin, 17. Waliyuddin, 18. Nuruddin, 19. Zainuddin, 20. Syarafuddin, 21. Syamsuddin, 22. Moh Hattak, 23. Syeikh Abdul Qadir Jilani, 24. Ibu Said Al-Mubarak Al-Mahzumi, 25. Abu Hasan Ali al-Hakkari, 26. Abul Faraj al-Thusi, 27. Abdul Wahid al-Tamimi, 28. Abu Bakar Dulafi al-Syibli, 29. Abul Qasim al-Junaid al-Bagdadi, 30. Sari al-Saqathi, 31. Ma’ruf al-Karkhi, 32. Abul Hasan Ali ibn Musa al-Ridho, 33. Musa al-Kadzim, 34. Ja’far Shodiq, 35. Muhammad al-Baqir, 36. Imam Zainul Abidin, 37. Sayyidina Husein, 38. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, 39. Sayyidina Nabi Muhammad saw, 40. Sayyiduna Jibril dan 41. Allah Swt. Masalah silsilah tersebut memang berbeda satu sama lain, karena ada yang disebut seecara keseluruhan dan sebaliknya. Di samping berbeda pula guru di antara para kiai itu sendiri.
1. M Mustain Romli, 2, Usman Ishaq, 3. Moh Romli Tamim, 4. Moh Kholil, 5. Ahmad Hasbullah ibn Muhammad Madura, 6. Abdul Karim, 7. Ahmad Khotib Sambas ibn Abdul Gaffar, 8. Syamsuddin, 9. Moh. Murod, 10. Abdul Fattah, 11. Kamaluddin, 12. Usman, 13. Abdurrahim, 14. Abu Bakar, 15. Yahya, 16. Hisyamuddin, 17. Waliyuddin, 18. Nuruddin, 19. Zainuddin, 20. Syarafuddin, 21. Syamsuddin, 22. Moh Hattak, 23. Syeikh Abdul Qadir Jilani, 24. Ibu Said Al-Mubarak Al-Mahzumi, 25. Abu Hasan Ali al-Hakkari, 26. Abul Faraj al-Thusi, 27. Abdul Wahid al-Tamimi, 28. Abu Bakar Dulafi al-Syibli, 29. Abul Qasim al-Junaid al-Bagdadi, 30. Sari al-Saqathi, 31. Ma’ruf al-Karkhi, 32. Abul Hasan Ali ibn Musa al-Ridho, 33. Musa al-Kadzim, 34. Ja’far Shodiq, 35. Muhammad al-Baqir, 36. Imam Zainul Abidin, 37. Sayyidina Husein, 38. Sayyidina Ali ibn Abi Thalib, 39. Sayyidina Nabi Muhammad saw, 40. Sayyiduna Jibril dan 41. Allah Swt. Masalah silsilah tersebut memang berbeda satu sama lain, karena ada yang disebut seecara keseluruhan dan sebaliknya. Di samping berbeda pula guru di antara para kiai itu sendiri.
PENGERTIAN TAREKAT
1. Kenyataan Sejarah
Cikal
bakal tasawuf dan tarekat, benih-benih dan dasar ajarannya tak dapat
dipungkirisudah ada sejak dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW. Hal ini
dapat dilihat dalam perilaku dan peristiwa yang terjadi dalam hidup,
dalam ibadah dan dalam pribadi Nabi Muhammad SAW. Cikal bakal itu
semuanya berdasarkan Al-Qur’an dan Al-Hadits.
Cikal bakal inilah yang diteruskan pengamalannya oleh Ahlul Bait, Khulafaur-Rasyidin, para sahabat yang lain, para Ahlus Shufah , para Salafus Shaleh, zaman tabi’in, tabi’it tabi’in sampai dengan zaman muta-akhirin sekarang ini.
Cikal bakal inilah yang diteruskan pengamalannya oleh Ahlul Bait, Khulafaur-Rasyidin, para sahabat yang lain, para Ahlus Shufah , para Salafus Shaleh, zaman tabi’in, tabi’it tabi’in sampai dengan zaman muta-akhirin sekarang ini.
Para
Sufi dan Syekh-syekh Mursyid dalam tarekat, merumuskan bagaimana
sistematika, jalan, cara, dan tingkat –tingkat jalan yang harus dilalui
oleh para calon sufi atau muri tarekat secara rohani untuk cepat
bertaqarrub, mendekatkan diri kehadirat Allah SWT.
Kenyataan
dalam sejarah juga menunjukkan, bahwa peran serta aktif dari para
sufi dan para tuan syekh, mursyid, adalah amat besar dalam dakwah
islam dan dalam pembinaan umat, tidak hanya dalam bidang ibadah
ubudiyah, tetapi meliputi seluruh aspek kehidupan perorangan,
bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Pendapat
yang menyatakan bahwa tasawuf dan tarekat itu menghambat kemajuan
atau menyebabkan umat menjadi terbelakang adalah sangat keliru.
Kenyataan juga membuktikan, sejak dahulu sampai sekarang, kemajuan
pembangunan yang serba canggih buah dari ilmu pengetahuan dan
teknologi (IPTEK), tanpa dikendalikan oleh iman dan taqwa(IMTAQ),
tidak hanya mengancam timbulnya kehancuran umat manusia. Dengan kata
lain, kemajuan dalam bidang benda material tanpa diimbangi degan
kemajuan pembinaan mental spiritual , akan menjurus kepada kehancuran
menyeluruh.
2. Tarekat di Indonesia
Seperti
diketahui dari sejarah, masuknya tasawuf dan tarekat ke Indonesia
bersamaan dengan masuknya islam. Aliran lembaga tarekat yang masuk ke
Indonesia bersamaan dengan memuncaknya gerakan tasawuf internasional,
seperti Tarekat Khalwatiyah,Syattariyah, Syadziliyah, demikia juga
tarekat-tarekat yang lain, yaitu Tarekat Qadiriyah, Rifa’iyah,Idrisiyah,
dan yang paling besar dan menyeluruh tersebar di seluruh kepulauan
Nusantara adalah tarekat Naqsabandiyah.
BAB II
PEMBAHASAN
TAREKAT DAN PERKEMBANGANNYA
1. Pengertian Tarekat
Asal kata “tarekat” dalam bahasa arab yaitu “thariqah” yang berarti jalan, keadaan, aliran, atau garis pada sesuatu.[1]
Menurut
istilah tasawuf, tarekat berarti perjalanan seorang salik (pengikut
tarekat) menuju Tuhan dengan cara mensucikan diri atau perjalanan yang
harus ditempuh secara rohani, maknawi oleh seseorang untuk dapat
mendekatkan diri sedekat mungkin kepada Allah SWT.
Menurut
Syekh Amin al-Kurdi tarekat ialah cara mengamalkan syariat dan
menghayati inti syariat itu dan menjauhkan diri dari hal-hal yang bisa
melalaikan pelaksanaan dan inti serta tujuan syariat.
2. Hubungan Tarekat dengan Tasawuf
Didalam
ilmu tasawuf, istilah tarekat tidak saja ditujukan kepada aturan dan
cara-cara tertentu yang digunakan oleh seorang syekh tarekat dan bukan
pula terhadap kelompok yang menjadi pengikut salah seorang syekh
tarekat, tetapi meliputi segala aspek ajaran yang ada didalam agama
Islam, seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya, yang semua
itu merupakan jalan atau cara mendekatkan diri kepada Allah.[2]
Sebagaimana
telah diketahui bahwa tasawuf itu secara umum adalah usaha
mendekatkan diri kepada Allah dengan sedekat mungkin, melalui
penyesuaian rohani dan memperbanyak ibadah. Usaha mendekatkan diri ini
biasanya dilakukan dibawah bimbimngan seoang guru atau syekh. Dengan
demikian, dapat dikatakan bahwa tasawuf adalah usaha mendekatkan diri
kepada Allah, sedangkan tarekat adalah cara dan jalan yang ditempuh
seseorang dalam usahanya mendekatkan diri kepada Allah. Gambaran ini
menunjukkan bahwa tarekat adalah tasawuf yang terlah berkembang dengan
beberapa variasi tertentu, sesuai dengan spesifikasi yang diberikan
seorang guru kepada muridnya.
3. Sejarah Timbulnya Tarekat
Peralihan
tasawuf yang bersifat personal pada tarekat yang bersifat lembaga
tidak terlepas dari perkembangan dan perluasan tasawuf itu sendiri.
Semakin luas pengaruh tasawuf, semakin banyak pula orang berhasrat
mempelajarinya.
Seorang guru tasawuf biasanya memformulasikan suatu sistem
pengajaran tasawuf berdasarkan pengalamannya sendiri. Sistem
pengajaran itulah yang kemidian menjadi ciri khas bagi suatu tarekat
yang membedakannya dari tarekat yang lain.[3]
Tarekat adalah organisai dari pengikut sufi-sufi besar. Mereka
mendirikan organisasi-organisasi untuk melestarikan ajaran-ajaran
tasawuf gurunya. Maka timbullah tarekat. Tarekat ini memakai suatu
tempat pusat kegiatan yang disebbut ribat (disebut juga zawiyah, hangkah atau pekir).
Teori lain sejarah kemunculan tarekat dikemukakan oleh
Jhon O. Voll. Ia mejelaskan bahwa penjelasan mistis terhadap Islam
muncul sejak awal sejarah islam, dan para sufi yang mengembangkan
jalan-jalan spiritual personal mereka dengan melibatkan
praktik-praktik ibadah, pembacaan kitab suci, dan kepustkaan tentang
keshalehan. Para sufi ini kadang-kadang terlibat konflik dengan
otoritas-otoritas dalam komunitas islam dan memberikan alternatif
terhadap orientasi yang lebih bersifat legalistik, yang disampaikan
oleh kebanyakan ulama. Namun, para sufi secara bertahap menjadi
figur-figur penting dalam kehidupan keagamaan dikalangan penduduk awam
dan mulai mengumpulkan kelompok-kelompok pengikut diidentifikasi dan
diikat bersama oleh jalan taswuf khusus (tarekat) sang guru. Mejelang
abad ke-12 M (ke-5 H), jalan-jalan ini mulai menyediakan basis bagi
kepengikutan yang lebih permanen, dan tarekat-tarekat sufi pun muncul
sebagai organisasi sosial utama dalam komunitas islam.[4]
Pada awal kemunculannya, tarekat berkembang dari dua
daerah, yaitu Khurasan (Iran) dan Mesopotamia (Irak). Pada priode ini
mulai timbul beberapa, diantaranya tarekat Yasafiah yang didirikan
oleh Ahmad al-Yasafi (w. 562 H/1169 M), tarekat Khawajagawiyah yang
disponsori oleh Abd al-Khaliq al-Ghzudawani (w. 617 H/1220 M), tarekat
Naksabandiyah, yang didirikan oleh Muhammad Bahauddin an-Naksabandi
al-Awisi al-Bukhari (w. 1389 M) di Turkistan, tarekat Khalwatiyah yang
didirikan oleh Umar al-Khalwati (w. 1397 M). Karena banyaknya
cabang-cabang tarekat yang timbul dari tiap-tiap tarekat induk, sangat
sulit untuk menelusuri sejarah perkembangan tarekat itu se cara
sistematis dan konsepsional. Akan tetapi yang jelas sesuai dengan
penjelasan Harun Nasution, cabang-cabang itu muncul sebagai akibat
tersebarnya alumni suatu tarekat yang mendapat ijazah tarekat dari
gurunya untuk membuka perguruan baru sebagai perluasan dari ilmu yang
diperolehnya. Alumni tadi meninggalkan ribat gurunya dan membuka ribat baru didaerah lain. Dengan cara ini, dari satu ribat induk kemudian timbul ribat cabang tumbuh ribat ranting dan seterusnya, samapi tarekat itu berkembang keberbagai dunia islam.[5]
Namun, ribat-ribat tersebut tetap mempunyai ikatan kerohanian,
ketaatan, dan amalan-amalan yang sama dengan syekhnya yang pertama.
Dalam seluruh tarekat terdapat kegiatan ritual sentral
yang melibatkan pertemuan-pertemuan kelompok secara teratur untuk
melakukan pembacaan do’a, syair dan ayat-ayat pilihan dari Al-Qur’an.
4. Aliran-aliran Tarekat Dalam Islam
- Tarekat Qadiriyah
Qadiriyah didirikan oleh Abd Al-Qadir Jailani [470/1077-561/1166] atau quthb al-awiya.
Ciri khas dari Tarekat Qadiriyah ini adalah sifatnya yang luwes,tidak
sempit sehingga tuan syekh atau Syekh Mursyid yang baru dapat
menentukan langkahnya menuju kehadirat Allah SWT guna mendapat
keridlaan-Nya. Keluwesan dan kemandirian inilah, yang menyebabkan
tarekat ini cepat berkembang di sebagian besar dunia Islam. Terutama di
Turki, Yaman, Mesir, India, Suria, Afrika dan termasuk ke Indonesia.
2. Syadziliyah
Tarekat
Syadziliyah didirikan oleh Abu Al-Hasan Asy-Syadzili
[593/1196-656/1258]. Syadziliyah menyebar luas di sebagian besar Dunia
Muslim. Ia diwakili di Afrika Utara teerutama oleh cabang-cabang
Fasiyah dan Darqawiyah serta berkembang pesat di Mesir, tempat 14
cabangnya dikenal secara resmi pada tahun 1985.[6]
- Tarekat Naqsabandiyah
Tarekat
Naqsabandiyah didirikan oleh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandi
Al-Awisi Al-Bukhari [w. 1389M] di Turkistan. Tarekat ini mempunyai
dampak dan pengaruh sangat besar kepada masyarakat muslim di berbagai
wilayah yang berbeda-beda. Tarekat ini pertama kali berdiri di Asia
Tengah, kemudian meluas ke Turki, Suriah, Afganistan, dan India.
Cirri menonjol Tarekat Naksabandiyah adalah : Pertama, mengikuti
syariat secara ketat, keseriusan dalam beribadah yang menyebabkan
penolakan terhadap musik dan tari, dan lebih menyukai berdzikir dalam
hati. Kedua, upaya yang serius dalam memengaruhi kehidupan dan
pemikiran golongan penguasa serta mendekati Negara pada agama.
- Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah
Tarekat Yasafiyah didirikan oleh Ahmad Al-Yasafi [w. 562H/1169M] dan disusul tarekat Khawajagawiyah yang disponsori oleh Abd Al-Khaliq Al-Ghuzdawani [w. 617 H/1220 M]. kedua tarekat ini menganut paham tasawuf Abu Yazid Al-Bustami [w. 425 H/1034 M] dan dilanjutkan oleh Abu Al-Farmadhi [w. 477 H/1084 M].[7] Tarekat Yasafiyah berkembang ke berbagai daerah, antara lain ke Turki.
- Tarekat Khalwatiyah
Tarekat
ini didirikan oleh Umar Al-Khalatawi [w. 1397 M] dan merupakan salah
satu tarekat yang berkembang di berbagai negeri, seperti Turki,
Syiria, Mesir, Hijaz, dan Yaman. Di Mesir, tarekat Khalwatiyah didirikan oleh Ibrahim Gulsheini [w. 940 H/1534 M] yang kemudian terbagi kepada beberapa cabang, antara lain tarekat Sammaniyah yang didirikan oleh Muhammad bin Abd Al-Karim As-Samani [1718-1775].
- Tarekat Syatariyah
Tarekat
ini didirikan oleh Abdullah bin Syattar [w. 1485] dari India. Tarekat
ini tidak mementingkan shalat lima waktu, tetapi mementingkan shalat
permanen [shalat dhaim]. Adapun dasar tarekat ini adalah martabat tujuh yang sebenarnya tidak begitu erat hubungannya dengan praktik ritualnya.[8]
- Tarekat Rifa’iyah
Tarekat
ini didirikan oleh Ahmad bin Ali ar-Rifa’I [1106-1182]. Tarekat sufi
Sunni ini memainkan peranan penting dalam pelembagaan sufisme. Dari
segala praktik kaum Rifa’iyah, dzikir mereka yang khas patut dicatat.
- Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah
Tarekat ini merupakan gabungan dari dua ajaran tarekat, yaitu Qadiriyah dan Naqsabandiyah.
Tarekat ini didirikan oleh Ahmad Khatib Sambas yang bermukim dan
mengajar di Mekkah pada pertengahan abad ke-19. Tarekat ini merupakan
yang paling berpengaruh dan tersebar secara melua di Jawa saat ini.[9]
- Tarekat Sammaniyah
Tarekat
ini didirikan oleh Muhammad bin ‘Abd Al-Karim Al-Madani Asy-Syafi’I
As- Samman [1130-1189/1718-1775]. Hal menarik dari tarekat ini yang
menjadi ciri khasnya adalah corak wahdat al-wujud yang dianut dan syathahat yang terucap olehnya tidak bertentangan dengan syariat.
- Tarekat Tijaniyah
Tarekat
Tijaniyah didirikan oleh Syekh Ahmad bin Muhammad At-Tijani
[1150-1230 H/1737-1815 M]. Bentuk amalan tarekat Tijaniyah terdiri
dari dua jenis,yaitu wirid wajibah dan wirid ikhtiyariyah.
- Tarekat Chistiyah
Chistiyah
adalah salah satu tarekat sufi utama di Asia Selatan. Tarekat ini
meyebar ke seluruh kawasan yang kini merupakan wilayah India, Pakista
dan Banglades. Namun, tarekat ini hanya terkenal di India. Pendiri
tarekat ini di India adalah Khwajah Mu’in Ad-Din Hasan, yang lebih
populer dengan panggilan Mu’in Ad-Din Chisti.
- Tarekat Mawlawiyah
Nama Mawlawiyah berasal
dari kata “mawlana” [guru kami], yaitu gelar yang diberikan
murid-muridnya kepada Muhammad Jalal Ad-Din Ar-Rumi [w. 1273]. Oleh
karena itu, Rumi adalah pendiri tarekat ini, yang didirikan sekitar 15
tahun terakhir hidup Rumi. Salah satu mursyid sekaligus wakil
yang terkenal secara internasional dari tarekat ini adalah Syekh
Al-Kabir Helminski yang bermarkas di California, Amerika Serikat.[10]
- Tarekat Ni’matullahi
Tarekat
Ni’matullahi adalah suatu mazhab sufi Persia yang segera setelah
berdirinya dan mulai berjaya pada abad ke-8-14 mengalihkan loyalitasnya
kepada Syi’I Islam. Tarekat ini didirikan oleh Syekh Ni’matullahi
Wal. Tarekat ini secara khusus menekankan pengabdian dalam pondok sufi
itu sendiri.
- Tarekat Sanusiyah
Tarekat
ini didirikan oleh Sayyid Muhammad bin ‘Ali As-Sanusi. Dalam tarekat
ini, dzikir bisa dilakukan bersama-sama atau sendirian. Tujuan dzikir
itu lebih dimaksudkan untuk “melihat Nabi” ketimbang “melihat Tuhan”,
sehingga tidak dikenal “keadaan ekstatis”’ sebagaimana yang ada pada
tarekat lain.
Di samping tarekat-tarekat diatas, ada pula tarekat lokal yang didirikan di Indonesia diantaranya : [11]
- Tarekat Akmaliyah [Hakmiyah]
Didirikan oleh Kyai Nurhakim. Ia dikenal sebagai dukun dan tukang jimat.
- Tarekat Shiddiqiyah
Didirikan
oleh Kyai Mukhtar Mukti di Losari Plodo [Jombang] pada tahun 1958. Ia
dikenal sebagai dukun yang sakti sehingga banyak pengikutnya dari
kalangan penderita penyakit kronis dan bekas pecandu minuman.
- Tarekat Wahidiyah
Didirikan oleh Kyai Majid Ma’ruf dari Kedunglo[Kediri] pada tahun 1963.
Tarekat-tarekat yang ajaran-ajarannya sesuai dengan doktrin
Islam [Al-Qur’an dan AsSunnah] dikelompokkan ke dalam tarekat yang muktabarah. Sebaliknya, tarekat-tarekat yang ajaran-ajarannya bertentangan dengan doktrin Islam dikelompokkan ke dalam tarekat ghair muktabarah. Menurut Syekh Jalaluddin sebagaimana dikutip ole Aboe Bakar Atjeh, ada 41 jenis tarekat yang masuk ke dalam tarekat muktabarah, diantaranya Qadiriyah,
Naqsabandiyah, Syadziliyah, Rifa’iyah, Qubrawiyah, Suhrawardiyah,
Khalwatiyah, Alawiyah, Syatariyah, Aidrusiyah, Sammaniyah, dan Sanusiyah. Di luar yang 41 macam tersebut dipandang sebagai tarekat ghair muktabarah yang tidak diakui kebenarannya seperti tarekat Akmaliyah, Siddiqiyah, dan Wahidiyah.
Walaupun
bermacam-macam, ternyatatarekat-tarekat yang beragam itu memiliki
kesamaan tertentu. Dalam kaitan ini, Nicholson mengungkapkan hasil
penelitiannya, bahwa sistem hidup bersih dan bersahaja [zuhd]
adalah dasar semua tarekat yang berbeda-beda itu. Semua pengikut
dididik dalam disipin itu, dan pada umumnya tarekat-tarekat tersebut
walupun beragam namanya dan metodenya ada cirri yang menyamakannya.
Dari sisem dan metode tersebut, Nicholson menyimpulkan
bahwa tarekat-tarekat sufi merupakan bentuk kelembagaan yang
terorganisasi untuk membina suatu pendidikan moral dan solidaritas
social. Sasaran akhir dari pembinaan pribadi dalam pola hidup
bertasawuf adalah hidup bersih, bersahaja, tekun beribadah kepada
Allah, membimbing masyarakat ke arah yang diridai Allah, dengan jalan
pengamalan syariat dan penghayatan haqiqah dalam sistem/metode
thariqah untuk mencapai makrifat. Apa yang dimaksud dengan makrifat
dalam tema mereka adalah penghayatan puncak pengenalan keesaan Allah
dalam wujud semesta dan wujud dirinya sendiri. Pada titik pengenalan
ini akan terpadu makna tawakkal dalam tauhid, yang melahirkan sikap
pasrah total kepada Allah, dan melepaskan dirinya dari ketergantungan
mutlak kepada sesuatu selain Allah.
BAB III
KESIMPULAN
Tarekat
adalah perjalanan seorang salik (pengikut tarekat) menuju Tuhan
dengan cara mensucikan diri atau perjalanan yang harus ditempuh secara
rohani, maknawi oleh seseorang untuk dapat mendekatkan diri sedekat
mungkin kepada Allah SWT.
Tarekat-tarekat dalam Islam :
- Tarekat Qadiriyah
- Tarekat Syadziliyah
- Tarekat Naqsabandiyah
- Tarekat Yasafiyah dan Khawajagawiyah
- Tarekat Khalwatiyah
- Tarekat Syatariyah
- Tarekat Rifa’iyah
- Tarekat Qadiriyah wa Naqsabandiyah
- Tarekat Sammaniyah
- Tarekat Tijaniyah
- Tarekat Chistiyah
- Tarekat Mawlawiyah
- Tarekat Ni’matullahi
- Tarekat Sanusiyah
SOSOK SYEIKH BESAR ABUYA DIMYATI
Abuya dimyati orang Jakarta biasa
menyapa, dikenal sebagai sosok yang sederhana dan tidak kenal menyerah.
Hampir seluruh kehidupannya didedikasikan untuk ilmu dan dakwah.
Menelusuri kehidupan ulama Banten ini seperti melihat warna-warni dunia sufistik. Perjalanan spiritualnya dengan beberapa guru sufi seperti Kiai Dalhar Watucongol. Perjuangannya yang patut diteladani. Bagi masyarakat Pandeglang Provinsi Banten Mbah Dim sosok sesepuh yang sulit tergantikan. Lahir sekitar tahun 1925 dikenal pribadi bersahaja dan penganut tarekat yang disegani.
Abuya Dimyati juga kesohor sebagai guru pesantren dan penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah. Pondoknya di Cidahu, Pandeglang, Banten tidak pernah sepi dari para tamu maupun pencari ilmu. Bahkan menjadi tempat rujukan santri, pejabat hingga kiai. Semasa hidupnya, Abuya Dimyati dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten. Abuya Dimyati dikenal sosok ulama yang mumpuni. Bukan saja mengajarkan ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf. Abuya dikenalsebagai penganut tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah.
Tidak salah kalau sampai sekarang telah mempunyai ribuan murid. Mereka tersebar di seluruh penjuru tanah air bahkan luar negeri. Sewaktu masih hidup , pesantrennya tidak pernah sepi dari kegiatan mengaji. Bahkan Mbah Dim mempunyai majelis khusus yang namanya Majelis Seng. Hal ini diambil Dijuluki seperti ini karena tiap dinding dari tempat pengajian sebagian besar terbuat dari seng. Di tempat ini pula Abuya Dimyati menerima tamu-tamu penting seperti pejabat pemerintah maupun para petinggi negeri. Majelis Seng inilah yang kemudian dipakainya untuk pengajian sehari-hari semenjak kebakaran hingga sampai wafatnya.
Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantani. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.
Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’. Karena, kewira’i annya di setiap pesantren yang disinggahinya selalu ada peningkatan santri mengaji.
Alam Spritual
Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyati ini menempuh jalan spiritual yang unik. Dalam setiap perjalanan menuntut ilmu dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain selalu dengan kegiatan Abuya mengaji dan mengajar. Hal inipun diterapkan kepada para santri. Dikenal sebagai ulama yang komplet karena tidak hanya mampu mengajar kitab tetapi juga dalam ilmu seni kaligrafi atau khat. Dalam seni kaligrafi ini, Abuya mengajarkan semua jenis kaligrafi seperti khufi, tsulust, diwani, diwani jally, naskhy dan lain sebagainya. Selain itu juga sangat mahir dalam ilmu membaca al Quran.
Bagi Abuya hidup adalah ibadah. Tidak salah kalau KH Dimyati Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah pernah berucap bahwa belum pernah seorang kiai yang ibadahnya luar biasa. Menurutnya selama berada di kaliwungu tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Sejak pukul 6 pagi usdah mengajar hingga jam 11.30. setelah istirahat sejenak selepas Dzuhur langsung mengajar lagi hingga Ashar. Selesai sholat ashar mengajar lagi hingga Maghrib. Kemudian wirid hingga Isya. Sehabis itu mengaji lagi hingga pukul: 24 malam. Setelah itu melakukan qiyamul lail hingga subuh.
Di sisi lain ada sebuah kisah menarik. Ketika bermaksud mengaji di KH Baidlowi, Lasem. Ketika bertemu dengannya, Abuya malah disuruh pulang. Namun Abuya justru semakin mengebu-gebu untuk menuntut ilmu. Sampai akhirnya kiai Khasrtimatik itu menjawab, “Saya tidak punya ilmu apa-apa.” Sampai pada satu kesempatan, Abuya Dimyati memohon diwarisi thariqah. KH Baidlowio pun menjawab,” Mbah Dim, dzikir itu sudah termaktub dalam kitab, begitu pula dengan selawat, silahkan memuat sendiri saja, saya tidak bisa apa-apa, karena tarekat itu adalah sebuah wadzifah yang terdiri dari dzikir dan selawat.” Jawaban tersebut justru membuat Abuya Dimyati penasaran. Untuk kesekian kalinya dirinya memohon kepada KH Baidlowi. Pada akhirnya Kiai Baidlowi menyuruh Abuya untuk solat istikharah. Setelah melaksanakan solat tersebut sebanyak tiga kali, akhirnya Abuya mendatangi KH Baidlowi yang kemudian diijazahi Thariqat Asy Syadziliyah.
Dipenjara Dan Mbah Dalhar
Mah Dim dikenal seagai salah satu orang yang sangat teguh pendiriannya. Sampai-sampai karena keteguhannya ini pernah dipenjara pada zaman Orde Baru. Pada tahun 1977 Abuya sempat difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara. Hal ini disebabkan Abuya sangat berbeda prinsip dengan pemerintah ketika terjadi pemilu tahun tersebut. Abuya dituduh menghasut dan anti pemerintah. Abuya pun dijatuhi vonis selama enam bulan. Namun empat bulan kemudian Abuya keluar dari penjara.
Ada beberapa kitab yang dikarang oleh Abuya Dimyati. Diantaranya adalah Minhajul Ishthifa. Kitab ini isinya menguraikan tentang hidzib nashr dan hidzib ikhfa. Dikarang pada bulan Rajab H 1379/ 1959 M. Kemudian kitab Aslul Qodr yang didalamya khususiyat sahabat saat perang Badr. Tercatat pula kitab Roshnul Qodr isinya menguraikan tentang hidzib Nasr. Rochbul Qoir I dan II yang juga sama isinya yaitu menguraikan tentang hidzib Nasr.
Selanjutnya kitab Bahjatul Qooalaid, Nadzam Tijanud Darori. Kemudian kitab tentang tarekat yang berjudul Al Hadiyyatul Jalaliyyah didalamnya membahas tentang tarekat Syadziliyyah. Ada cerita-cerita menarik seputar Abuya dan pertemuannya dengan para kiai besar. Disebutkan ketika bertemu dengen Kiai Dalhar Watucongol Abuya sempat kaget. Hal ini disebabkan selama 40 hari Abuya tidak pernah ditanya bahkan dipanggil oleh Kiai Dalhar. Tepat pada hari ke 40 Abuya dipanggil Mbah Dalhar. “Sampeyan mau jauh-jauh datang ke sini?” tanya kiai Dalhar. Ditanya begitu Abuya pun menjawab, “Saya mau mondok mbah.” Kemudian Kiai Dalhar pun berkata,” Perlu sampeyan ketahui, bahwa disini tidak ada ilmu, justru ilmu itu sudah ada pada diri sampeyan. Dari pada sampeyan mondok di sini buang-buang waktu, lebih baik sampeyan pulang lagi ke Banten, amalkan ilmu yang sudah ada dan syarahi kitab-kitab karangan mbah-mbahmu. Karena kitab tersebut masih perlu diperjelas dan sangat sulit dipahami oleh orang awam.”
Mendengar jawaban tersebut Abuya Dimyati menjawab, ”Tujuan saya ke sini adalah untuk mengaji, kok saya malah disuruh pulang lagi? Kalau saya disuruh mengarang kitab, kitab apa yang mampu saya karang?” Kemudian Kiai Dalhar memberi saran,”Baiklah, kalau sampeyan mau tetap di sini, saya mohon ajarkanlah ilmu sampeyan kepada santri-santri yang ada di sini dan sampeyan jangan punya teman.” Kemudian Kiai Dalhar memberi ijazah tareqat Syadziliyah kepada Abuya.
Menelusuri kehidupan ulama Banten ini seperti melihat warna-warni dunia sufistik. Perjalanan spiritualnya dengan beberapa guru sufi seperti Kiai Dalhar Watucongol. Perjuangannya yang patut diteladani. Bagi masyarakat Pandeglang Provinsi Banten Mbah Dim sosok sesepuh yang sulit tergantikan. Lahir sekitar tahun 1925 dikenal pribadi bersahaja dan penganut tarekat yang disegani.
Abuya Dimyati juga kesohor sebagai guru pesantren dan penganjur ajaran Ahlusunah Wal Jama’ah. Pondoknya di Cidahu, Pandeglang, Banten tidak pernah sepi dari para tamu maupun pencari ilmu. Bahkan menjadi tempat rujukan santri, pejabat hingga kiai. Semasa hidupnya, Abuya Dimyati dikenal sebagai gurunya dari para guru dan kiainya dari para kiai. Masyarakat Banten menjuluki beliau juga sebagai pakunya daerah Banten. Abuya Dimyati dikenal sosok ulama yang mumpuni. Bukan saja mengajarkan ilmu syari’ah tetapi juga menjalankan kehidupan dengan pendekatan tasawuf. Abuya dikenalsebagai penganut tarekat Naqsabandiyyah Qodiriyyah.
Tidak salah kalau sampai sekarang telah mempunyai ribuan murid. Mereka tersebar di seluruh penjuru tanah air bahkan luar negeri. Sewaktu masih hidup , pesantrennya tidak pernah sepi dari kegiatan mengaji. Bahkan Mbah Dim mempunyai majelis khusus yang namanya Majelis Seng. Hal ini diambil Dijuluki seperti ini karena tiap dinding dari tempat pengajian sebagian besar terbuat dari seng. Di tempat ini pula Abuya Dimyati menerima tamu-tamu penting seperti pejabat pemerintah maupun para petinggi negeri. Majelis Seng inilah yang kemudian dipakainya untuk pengajian sehari-hari semenjak kebakaran hingga sampai wafatnya.
Abuya berguru pada ulama-ulama sepuh di tanah Jawa. Di antaranya Abuya Abdul Chalim, Abuya Muqri Abdul Chamid, Mama Achmad Bakri (Mama Sempur), Mbah Dalhar Watucongol, Mbah Nawawi Jejeran Jogja, Mbah Khozin Bendo Pare, Mbah Baidlowi Lasem, Mbah Rukyat Kaliwungu dan masih banyak lagi. Kesemua guru-guru beliau bermuara pada Syech Nawawi al Bantani. Kata Abuya, para kiai sepuh tersebut adalah memiliki kriteria kekhilafahan atau mursyid sempurna, setelah Abuya berguru, tak lama kemudian para kiai sepuh wafat.
Ketika mondok di Watucongol, Abuya sudah diminta untuk mengajar oleh Mbah Dalhar. Satu kisah unik ketika Abuya datang pertama ke Watucongol, Mbah Dalhar memberi kabar kepada santri-santri besok akan datang ‘kitab banyak’. Dan hal ini terbukti mulai saat masih mondok di Watucongol sampai di tempat beliau mondok lainya, hingga sampai Abuya menetap, beliau banyak mengajar dan mengorek kitab-kitab. Di pondok Bendo, Pare, Abuya lebih di kenal dengan sebutan ‘Mbah Dim Banten’. Karena, kewira’i annya di setiap pesantren yang disinggahinya selalu ada peningkatan santri mengaji.
Alam Spritual
Dibanding dengan ulama kebanyakan, Abuya Dimyati ini menempuh jalan spiritual yang unik. Dalam setiap perjalanan menuntut ilmu dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain selalu dengan kegiatan Abuya mengaji dan mengajar. Hal inipun diterapkan kepada para santri. Dikenal sebagai ulama yang komplet karena tidak hanya mampu mengajar kitab tetapi juga dalam ilmu seni kaligrafi atau khat. Dalam seni kaligrafi ini, Abuya mengajarkan semua jenis kaligrafi seperti khufi, tsulust, diwani, diwani jally, naskhy dan lain sebagainya. Selain itu juga sangat mahir dalam ilmu membaca al Quran.
Bagi Abuya hidup adalah ibadah. Tidak salah kalau KH Dimyati Kaliwungu, Kendal Jawa Tengah pernah berucap bahwa belum pernah seorang kiai yang ibadahnya luar biasa. Menurutnya selama berada di kaliwungu tidak pernah menyia-nyiakan waktu. Sejak pukul 6 pagi usdah mengajar hingga jam 11.30. setelah istirahat sejenak selepas Dzuhur langsung mengajar lagi hingga Ashar. Selesai sholat ashar mengajar lagi hingga Maghrib. Kemudian wirid hingga Isya. Sehabis itu mengaji lagi hingga pukul: 24 malam. Setelah itu melakukan qiyamul lail hingga subuh.
Di sisi lain ada sebuah kisah menarik. Ketika bermaksud mengaji di KH Baidlowi, Lasem. Ketika bertemu dengannya, Abuya malah disuruh pulang. Namun Abuya justru semakin mengebu-gebu untuk menuntut ilmu. Sampai akhirnya kiai Khasrtimatik itu menjawab, “Saya tidak punya ilmu apa-apa.” Sampai pada satu kesempatan, Abuya Dimyati memohon diwarisi thariqah. KH Baidlowio pun menjawab,” Mbah Dim, dzikir itu sudah termaktub dalam kitab, begitu pula dengan selawat, silahkan memuat sendiri saja, saya tidak bisa apa-apa, karena tarekat itu adalah sebuah wadzifah yang terdiri dari dzikir dan selawat.” Jawaban tersebut justru membuat Abuya Dimyati penasaran. Untuk kesekian kalinya dirinya memohon kepada KH Baidlowi. Pada akhirnya Kiai Baidlowi menyuruh Abuya untuk solat istikharah. Setelah melaksanakan solat tersebut sebanyak tiga kali, akhirnya Abuya mendatangi KH Baidlowi yang kemudian diijazahi Thariqat Asy Syadziliyah.
Dipenjara Dan Mbah Dalhar
Mah Dim dikenal seagai salah satu orang yang sangat teguh pendiriannya. Sampai-sampai karena keteguhannya ini pernah dipenjara pada zaman Orde Baru. Pada tahun 1977 Abuya sempat difitnah dan dimasukkan ke dalam penjara. Hal ini disebabkan Abuya sangat berbeda prinsip dengan pemerintah ketika terjadi pemilu tahun tersebut. Abuya dituduh menghasut dan anti pemerintah. Abuya pun dijatuhi vonis selama enam bulan. Namun empat bulan kemudian Abuya keluar dari penjara.
Ada beberapa kitab yang dikarang oleh Abuya Dimyati. Diantaranya adalah Minhajul Ishthifa. Kitab ini isinya menguraikan tentang hidzib nashr dan hidzib ikhfa. Dikarang pada bulan Rajab H 1379/ 1959 M. Kemudian kitab Aslul Qodr yang didalamya khususiyat sahabat saat perang Badr. Tercatat pula kitab Roshnul Qodr isinya menguraikan tentang hidzib Nasr. Rochbul Qoir I dan II yang juga sama isinya yaitu menguraikan tentang hidzib Nasr.
Selanjutnya kitab Bahjatul Qooalaid, Nadzam Tijanud Darori. Kemudian kitab tentang tarekat yang berjudul Al Hadiyyatul Jalaliyyah didalamnya membahas tentang tarekat Syadziliyyah. Ada cerita-cerita menarik seputar Abuya dan pertemuannya dengan para kiai besar. Disebutkan ketika bertemu dengen Kiai Dalhar Watucongol Abuya sempat kaget. Hal ini disebabkan selama 40 hari Abuya tidak pernah ditanya bahkan dipanggil oleh Kiai Dalhar. Tepat pada hari ke 40 Abuya dipanggil Mbah Dalhar. “Sampeyan mau jauh-jauh datang ke sini?” tanya kiai Dalhar. Ditanya begitu Abuya pun menjawab, “Saya mau mondok mbah.” Kemudian Kiai Dalhar pun berkata,” Perlu sampeyan ketahui, bahwa disini tidak ada ilmu, justru ilmu itu sudah ada pada diri sampeyan. Dari pada sampeyan mondok di sini buang-buang waktu, lebih baik sampeyan pulang lagi ke Banten, amalkan ilmu yang sudah ada dan syarahi kitab-kitab karangan mbah-mbahmu. Karena kitab tersebut masih perlu diperjelas dan sangat sulit dipahami oleh orang awam.”
Mendengar jawaban tersebut Abuya Dimyati menjawab, ”Tujuan saya ke sini adalah untuk mengaji, kok saya malah disuruh pulang lagi? Kalau saya disuruh mengarang kitab, kitab apa yang mampu saya karang?” Kemudian Kiai Dalhar memberi saran,”Baiklah, kalau sampeyan mau tetap di sini, saya mohon ajarkanlah ilmu sampeyan kepada santri-santri yang ada di sini dan sampeyan jangan punya teman.” Kemudian Kiai Dalhar memberi ijazah tareqat Syadziliyah kepada Abuya.
Namun, Kini, waliyullah itu telah
pergi meninggalkan kita semua. Abuya Dimyati tak akan tergantikan lagi.
Malam Jumat pahing, 3 Oktober 2003 M/07 Sya’ban 1424 H, sekitar pukul
03:00 wib umat Muslim, khususnya warga Nahdlatul Ulama telah kehilangan
salah seorang ulamanya, KH. Muhammad Dimyati bin KH. Muhammad Amin
Al-Bantani, di Cidahu, Cadasari, Pandeglang, Banten dalam usia 78 tahun.
